ASPEK.ID, WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat memberi sinyal kuat bahwa konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Sejumlah pejabat di kabinet Presiden Donald Trump menilai perang tersebut sedang menuju fase akhir.
Pernyataan optimistis itu disampaikan Menteri Energi AS Chris Wright dalam program televisi “This Week” di ABC, Minggu (15/3) waktu setempat. Ia menyebut berbagai indikator militer maupun ekonomi menunjukkan konflik kemungkinan selesai dalam beberapa pekan ke depan.
Menurut Wright, tekanan pada pasar energi global mulai mereda meskipun harga minyak mentah masih berada di kisaran 100 dolar AS per barel akibat gangguan di jalur pelayaran strategis.
“Indikator yang ada menunjukkan konflik ini tidak akan berlangsung lama. Pasokan energi diperkirakan pulih dan harga minyak akan menurun setelah situasi stabil,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Trump juga menunjukkan keyakinan tinggi terhadap dominasi militer AS dalam konflik tersebut. Dalam wawancara dengan NBC News, ia mengklaim serangan udara yang dilakukan pasukan Amerika telah melumpuhkan sejumlah fasilitas vital Iran, termasuk di Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak negara itu.
Trump bahkan menyatakan kemungkinan adanya serangan lanjutan terhadap lokasi tersebut jika dianggap perlu.
Iran Bantah Klaim AS
Namun, optimisme Washington mendapat tanggapan keras dari pihak Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa Teheran tidak pernah meminta gencatan senjata ataupun membuka negosiasi dengan Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan program “Face the Nation” di CBS, Araqchi menyatakan Iran siap mempertahankan diri selama diperlukan.
“Kami tidak pernah meminta penghentian perang atau negosiasi. Iran akan membela diri selama apa pun waktu yang dibutuhkan,” katanya.
Araqchi juga membantah klaim bahwa kondisi internal Iran melemah akibat serangan militer. Menurutnya, stabilitas nasional masih terjaga dan pemerintah tidak melihat alasan untuk berkompromi dengan Washington di bawah tekanan militer.
Rencana Koalisi Pengawal Tanker
Di tengah konflik yang masih berlangsung, pemerintahan Trump juga dikabarkan sedang menyiapkan pembentukan koalisi internasional untuk mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Langkah tersebut bertujuan menjamin keamanan jalur distribusi energi global setelah permusuhan mereda.
Di sisi diplomatik, Presiden Prancis Emmanuel Macron turut menyerukan penghentian serangan di kawasan tersebut. Dalam komunikasinya dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Macron menekankan pentingnya menjaga kebebasan navigasi dan stabilitas perdagangan internasional.
Meski sejumlah pihak mulai memproyeksikan akhir konflik, situasi di lapangan masih memanas. Garda Revolusi Iran dilaporkan terus meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Washington tetap berpegang pada proyeksinya bahwa konflik tersebut akan memasuki babak akhir dalam waktu dekat. []
















