ASPEK.ID, SURABAYA – Ratusan siswa dan guru dari belasan sekolah di Kecamatan Bubutan, Surabaya, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan massal usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (11/5). Korban mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing hingga lemas.
Kepala Puskesmas Tembok Dukuh Surabaya drg Tyas Pranadani mengatakan, sejauh ini ada hampir 200 siswa yang tercatat mengalami gejala keracunan. Para korban kini menjalani penanganan di Puskesmas Tembok Dukuh dan RSIA IBI Surabaya.
“Sejauh ini yang kita dapatkan datanya hampir 200 siswa [mengalami gejala keracunan],” kata Tyas saat ditemui di RSIA IBI Surabaya, Senin (11/5).
Tyas menyebut para siswa berasal dari 12 sekolah berbeda, mulai tingkat TK, SD hingga SMP. Seluruh sekolah tersebut menerima distribusi MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh.
“Ada beberapa sekolah dari satu SPPG [Tembok Dukuh] itu memang semua dikirimi makanan ini mengeluh, hampir semuanya mengeluh. Jadi total itu sekitar 12 sekolah yang di dapur sama,” ujarnya.
Menurut Tyas, sebagian besar siswa mengeluhkan mual dan muntah setelah menyantap makanan MBG. Menu yang dibagikan terdiri dari nasi putih, daging krengsengan, tahu goreng, tumis wortel-buncis dan jeruk.
“Gejalanya mual dan muntah kebanyakan sih, jadi pusing, mual, muntah setelah makan makanan dari MBG,” ucapnya.
Pihak puskesmas menduga keluhan muncul setelah siswa menyantap menu daging krengsengan. Namun hingga kini penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
“Masih belum tahu ya [dari makanan apa], masih kita cek ulang. Sampel sudah kami ambil di lokasi, kemudian masih akan kami cek di BBLK (Balai Besar Laboratorium Kesehatan),” ujarnya.
Salah seorang siswa kelas IV SD Raden Wijaya Tembok Dukuh, Gibran Pratama, mengaku mengalami sakit perut setelah memakan menu daging tersebut. Ia menyebut aroma makanan normal, tetapi rasanya pahit seperti obat.
“Murus-murus (sakit perut), rasanya itu kayak obat, pahit, baunya enak, tapi rasanya kayak obat,” kata Gibran.
Karena merasa aneh dengan rasanya, Gibran mengaku tidak menghabiskan makanan itu dan membawanya pulang sebelum akhirnya dibuang oleh ibunya.
“Enggak habis, dibawa pulang, enggak [dihabiskan] katanya ibu disuruh buang,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Tembok Dukuh Chafi Alida Najla menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut. Ia memastikan pihaknya akan bertanggung jawab terhadap penanganan korban.
“Saya sebagai kepala SPPG dari Tembok Dukuh Bubutan mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang terdampak, kepada siswa dan juga guru yang kena keracunan karena makanan kita,” kata Chafi.
“Dari kami akan bertanggung jawab penuh terhadap pengobatan dan juga segala observasi yang dilakukan di lapangan seperti itu,” tambahnya.
Chafi mengaku menerima banyak laporan terkait keluhan siswa usai menyantap menu daging. Meski begitu, ia mengeklaim proses pengolahan makanan sudah sesuai standar.
“Jadi saat kejadian itu berlangsung banyak laporan yang mana bahwa anak-anak itu mengeluhkan sakit perut setelah memakan dagingnya gitu. Tapi memang karena di dalam daging itu ada di dalam ompreng itu ada daging, nasi, dan sebagainya, mungkin saat anak-anak itu makan nasi juga sudah terkontaminasi seperti itu. Jadi memang permasalahannya dari makanan, kan dagingnya sendiri sudah sesuai standar-nya,” ujarnya.
Ia memastikan bahan baku yang digunakan masih dalam kondisi layak konsumsi. Daging disebut mulai dimasak sejak Minggu (10/5) malam.
“Kalau masaknya kita start dari jam 23.00 WIB malam, 00.00 WIB kurang lebih gitu. Dipastikan masih fresh, gitu,” katanya.
Akibat kejadian tersebut, operasional SPPG Tembok Dukuh sementara dihentikan hingga hasil uji laboratorium keluar. Evaluasi menyeluruh juga akan dilakukan.
“Kita berhenti operasional, kita evaluasi dulu sampai semua benar-benar baik baru kita lihat kelanjutannya seperti apa. Jadi untuk hasil lengkapnya mungkin lebih baik menunggu hasil [uji laboratorium] dari Dinkes saja,” kata Chafi.
Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan pihaknya telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan evaluasi.
“Kami langsung dari informasi yang sudah terdapat info, kami langsung ke sini menindaklanjuti dan evaluasi. Kami arahkan jeda distribusi yang berkelanjutan sesuai dengan dari Bu Kepala SPPG sudah dijelaskan,” ujarnya.
Sementara Wakil Wali Kota Surabaya Armuji meminta semua pihak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum menyimpulkan penyebab keracunan.
“Kita nunggu dari tim kesehatan, jadi dari Puskesmas sudah datang ya toh, dari Provinsi juga sudah datang. Kita tidak bisa menjustifikasi si A salah, si B enggak,” kata Armuji.
Meski begitu, Armuji menilai kondisi dapur dan area pengolahan makanan di SPPG Tembok Dukuh sudah memenuhi standar kebersihan.
“Artinya di gedung ini tadi kita lihat mulai kemasakan, kitchen-nya, tempat pengolahan, tempat pencucian ompreng secara sudah memenuhi standar semua, memenuhi syarat. Jadi sangat bersih, kita pastikan sangat bersih,” ucapnya. []
























