ASPEK.ID, JAKARTA – Industri data center atau pusat data Indonesia terus berkembang dan kini menjadi salah satu infrastruktur strategis yang menopang pertumbuhan ekonomi digital. Namun, pertumbuhan tersebut juga menghadirkan sejumlah tantangan.
Ketua Umum Indonesia Data Center Ecosystem Council (IDCEC) Nawi Jaya mengatakan, tantangan industri data center di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kapasitas, tetapi juga bagaimana membangun ecosystem capability yang mampu menopang pertumbuhan industri secara berkelanjutan.
“Kompetisi data center ke depan tidak cukup dimenangkan hanya dengan menawarkan tanah atau listrik. Investor membutuhkan kapasitas, kebijakan, availability of power, konektivitas, talent, sustainability, dan terutama eksekusi kapabilitas,” kata Nawi di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Nawi menilai Indonesia memiliki pasar dan potensi data center yang besar. Namun, potensi tersebut tidak otomatis menjadi keunggulan kompetitif. Keunggulan baru dapat tercipta apabila potensi tersebut diwujudkan menjadi proyek yang andal, berkelanjutan, menarik bagi investor, dan dapat dikembangkan dalam skala besar.
Karena itu, menurutnya paradigma industri perlu bergeser dari company to company menjadi ecosystem by ecosystem.
IDCEC mengidentifikasi lima friksi utama yang perlu diselesaikan bersama untuk memperkuat ekosistem data center Indonesia. Pertama, kebijakan dan standar. Kedua, talenta dan kompetensi. Ketiga, kebutuhan listrik, efisiensi, dan keberlanjutan. Keempat, pengetahuan dan praktik terbaik atau best practice. Kelima, penguatan ekosistem dan koordinasi antarpemangku kepentingan.
“Tidak satu pun dari lima persoalan ini dapat diselesaikan oleh satu perusahaan. Operator tidak bisa menyelesaikan semuanya sendiri, technology provider juga tidak bisa menyelesaikan semuanya sendiri, pemerintah juga tidak bisa menyelesaikan semuanya sendiri,” jelasnya.
Nawi mengatakan, IDCEC juga menjadi wadah kolaborasi bagi para pemangku kepentingan industri data center di Indonesia. Asosiasi ini ditujukan untuk memperkuat ekosistem pusat data yang aman, berkelanjutan, mandiri, dan mampu bersaing di kawasan Asia Tenggara.
“IDCEC hadir untuk menyatukan berbagai kepentingan dalam satu ekosistem kolaborasi, sehingga pertumbuhan industri pusat data tidak hanya mengejar kapasitas, tetapi juga memperkuat kemandirian, kompetensi SDM, dan daya saing Indonesia,” ujarnya disadur dari beritasatu.
Menurut Nawi, data center kini menjadi salah satu infrastruktur vital yang menopang berbagai aktivitas digital masyarakat dan dunia usaha. Karena itu, IDCEC akan mendorong pertukaran pengetahuan, best practice, serta dialog antara pelaku industri dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kami ingin membangun komunikasi yang lebih terstruktur antara pelaku industri dan regulator, sehingga kebijakan yang lahir dapat memberikan kepastian sekaligus mendukung pertumbuhan pusat data yang aman, berkelanjutan, dan kompetitif,” ujarnya.
Dalam lima tahun ke depan, lanjutnya, IDCEC akan memprioritaskan penguatan kolaborasi di seluruh ekosistem pusat data, pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik, pengembangan industri yang berkelanjutan, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Program tersebut juga mencakup pelatihan dan sertifikasi serta pembukaan akses yang lebih luas bagi tenaga kerja lokal terhadap kebutuhan industri pusat data.















