ASPEK.ID, JOMBANG – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur pada Senin (31/8/2026) menempatkan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai peroleh suara tertinggi untuk menjabat ketua umum PBNU.
Berikut profil pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng tersebut.
Gus Kikin lahir pada 17 Agustus 1958. Putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum. Dari garis keluarganya, ia bersambung dengan lingkungan ulama dan pesantren Jombang.
Pendidikan agama Gus Kikin dari orang tuanya ketika berada di Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang.
Ia menempuh pendidikan formal di SMPN Jombang, kemudian SMAN Jombang, sebelum melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.
Dari jalur keluarga, Gus Kikin juga mempunyai hubungan genealogis dengan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Ibunya, Nyai Hj Abidah Ma’shum, merupakan bagian dari keluarga besar ulama Tebuireng.
Dengan demikian, kehidupan Gus Kikin sejak awal memang tidak bisa dilepaskan dari tradisi keulamaan yang membentuk sejarah NU.
Gus Kikin menjalani dunia profesional dan usaha. Kepala cabang wilayah Cilegon PT Djakarta Lloyd. Ia juga berkecimpung dalam perdagangan komoditas, antara lain pinang dan minyak atsiri. Di dunia usaha, mendirikan PT Energi Mineral Langgeng yang bergerak di sektor migas serta PT Bama Berita Sarana (BBS Group), perusahaan yang bergerak di bidang media penyiaran berjaringan.
Ketika Gus Sholah dipercaya menjadi pengasuh Tebuireng, Gus Kikin berada di sisi beliau sebagai wakil pengasuh. Setelah Gus Sholah wafat, amanah kepengasuhan kemudian berlanjut kepada Gus Kikin.
Pada 2024, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur untuk masa khidmat 2024–2029. Pemilihan tersebut berlangsung dalam Konferensi Wilayah ke-18 NU Jawa Timur di Tebuireng.
Pada 31 Agustus 2026, nama Gus Kikin resmi masuk dalam lima calon Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031. Empat nama lainnya adalah KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Sochib, KH Yahya Cholil Staquf, dan KH Abdul Ghaffar Rozin.
Dalam proses penjaringan, Gus Kikin memperoleh dukungan suara terbanyak dan berada di urutan pertama. Lima nama tersebut kemudian diajukan untuk mendapatkan restu Rais Aam terpilih dan dimusyawarahkan melalui mekanisme AHWA.
Gus Kikin terpilih setelah AHWA melakukan musyawarah dari lima calon yang diajukan muktamarin. Gus Kikin juga mendapat persetujuan tertulis dari Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar.
Keputusan pemilihannya Gus Kikin ini diumumkan langsung oleh anggota AHWA, KH Anwar Iskandar.















