• Latest
  • Trending
Kenapa Investor Tak Tertarik Investasi Hulu Migas?

Harga Minyak Naik US$1, APBN Tambah Beban Rp6 Triliun

Prabowo: Selama Purbaya Bisa Senyum, Ekonomi Aman

Prabowo Kumpulkan 800 Perwira Tinggi TNI-Polri di Istana

Messi Dapat Gelar Doktor

Messi Dapat Gelar Doktor

Airlangga Bongkar Rahasia Ekonomi Vietnam Lebih Meleset dari RI

Airlangga Bongkar Rahasia Ekonomi Vietnam Lebih Meleset dari RI

Jakarta Tutup 20 McDonald’s & Denda Rp50 Juta

McDonald’s Digugat ke Pengadilan

Bangunan Tahan Gempa Wajib Diberlakukan

Stop Hubungkan Peristiwa Gempa Bumi dengan Dosa Warga

Panglima TNI Rotasi Sejumlah Kabinda, Termasuk Jawa Barat, Tengah dan Timur

Beredar Info Panglima TINI Mutasi Sejumlah Pangdam

BREAKING NEWS: Gibran Tetap Wapres RI, MK Tak Terima Gugatan Syarat Pendidikan

MK: Gugatan Terhadap Ijazah Wapres Gibran Tidak Dapat Diterima

BREAKING NEWS: Gibran Tetap Wapres RI, MK Tak Terima Gugatan Syarat Pendidikan

BREAKING NEWS: Gibran Tetap Wapres RI, MK Tak Terima Gugatan Syarat Pendidikan

UI:  Alasan Data Center AI Butuh Banyak Air

Danantara Bidik Investasi di Sektor Data Center

3 Nama dari PDIP Masuk Kabinet Prabowo-Gibran? Begini Jawaban Dasco

Dasco Bantah Rumor Surpres Pergantian Panglima TNI Sudah Masuk DPR

Survei: Kepercayaan Publik Terhadap Prabowo-Gibran  63,2%, Modal Sosial yang Sangat Berharga

2 Tahun Prabowo-Gibran Selamatkan Rp 52 T

Menkominfo: 3 Jurus Lawan Judi Online, Alamat IP Pindah-pindah

OJK: 38.796 Rekening Terindikasi Judi Online Minta Diblokir

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Rabu, Oktober 7, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

Harga Minyak Naik US$1, APBN Tambah Beban Rp6 Triliun

by Aspek
Oktober 7, 2026
in BERITA TERBARU, GLOBAL
Kenapa Investor Tak Tertarik Investasi Hulu Migas?

Ilustrasi pengoboran minyak di lepas pantai. [Foto: Ist]

 

ASPEK.ID, JAKARTA –  Sekretaris Jenderal Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengatakan setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel meningkatkan beban fiskal pemerintah sekitar Rp6 triliun.

 

BacaJuga

Prabowo Kumpulkan 800 Perwira Tinggi TNI-Polri di Istana

Messi Dapat Gelar Doktor

Airlangga Bongkar Rahasia Ekonomi Vietnam Lebih Meleset dari RI

McDonald’s Digugat ke Pengadilan

Stop Hubungkan Peristiwa Gempa Bumi dengan Dosa Warga

Beredar Info Panglima TINI Mutasi Sejumlah Pangdam

Susiwijono mengatakan tekanan tersebut terjadi karena Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.

 

“Setiap selisih 1 US dolar per barel itu negara harus mengeluarkan tambahan di APBN kira-kira sekitar 6 koma sekian triliun setiap 1 US,” ujar Susiwijono di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

 

Susiwijono menjelaskan, konsumsi BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, produksi minyak domestik atau lifting dalam asumsi APBN masih berada di kisaran 580 ribu hingga 600 ribu barel per hari. Kondisi tersebut membuat Indonesia masih menjadi negara net importir BBM.

 

Menurutnya, gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya gangguan di kawasan Selat Hormuz, berpotensi memberikan tekanan terhadap harga minyak global. Meski pasokan minyak Indonesia dari kawasan tersebut hanya sekitar 19-20%, dampaknya tetap perlu diwaspadai karena besarnya kebutuhan subsidi dan kompensasi energi.

 

“Nah kalau kita lihat dengan kita sangat tergantung kepada impor khususnya untuk kebutuhan BBM kita pasti akan terbayang pertama waduh ini nanti pasti akan meledak nih subsidi kita. Nah kemudian begitu kita cek ternyata ya kita bersyukur kebutuhan kita supply dari timur tengah selat hormuz hanya sekitar 19 sampai 20%,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, ketika harga minyak mengalami kenaikan, pemerintah memperoleh tambahan penerimaan dari sektor migas melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Namun, tambahan penerimaan tersebut belum sepenuhnya menutup kenaikan biaya yang harus ditanggung negara.

 

“Karena kalau setiap impor minyak dari negara-negara termasuk yang ada di Selat Hormuz itu tambahan belanja kita 1 dolarnya memerlukan 10,3 triliun. Tapi kita dapat penerimaan juga dari migas itu PNBP-nya sekitar 4 koma jadi per dolarnya kita harus keluar tambahan 6 koma,” ungkapnya.

 

Tekanan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah karena ruang fiskal saat ini semakin terbatas. Pemerintah tetap harus menjaga defisit APBN sesuai batas maksimal 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

 

“Padahal ruang fiskal kita nggak banyak. Defisit dikunci di 3%. Sehingga akhirnya kan dampaknya ke mana-mana termasuk efisiensi dan sebagainya,” tambahnya.

 

Menurut Susiwijono, kondisi tersebut turut memengaruhi strategi pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, konsumsi pemerintah dan belanja masih menjadi salah satu komponen penting dalam struktur ekonomi nasional.

 

“Begitu ngomongin efisiensi, kami harus merubah lagi strategi growthnya seperti apa. Karena PDB kita 54% adalah dari spending dari belanja. Sehingga selama ini kita mengandalkan berbagai stimulus ekonomi kita menyentuh dari sisi demand maupun demand maupun supply-nya di spending tadi,” tandasnya.

 

Susiwijono menyebut setiap konflik geopolitik memiliki efek lanjutan terhadap distribusi barang dan ketersediaan bahan baku industri.

 

“Nah balik ke Selat Hormuz tadi itu kan transmisinya tidak hanya ke harga crude oil yang harus kita impor. Setiap ada krisis konflik apapun itu pasti transmisinya ke masalah disrupsi logistik. Jadi supply chain disruption,” tutupnya.

 

 

Ia mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi berbagai tekanan akibat ketidakpastian global. Namun, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan memberikan stimulus ekonomi dan keterbatasan ruang fiskal.

 

Komentar
Share36Tweet22SendShareShare6Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

Erick Minta PLTS Terapung Cirata Ditiru di Seluruh Sungai Indonesia

Qodari: Bangun 15 PLTS, Bisa Hemat APBN Rp4,6 Triliun/Tahun

ASPEK.ID, JAKARTA - Indonesia bisa menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Rp4,6 triliun per tahun. Penghematam ini berasal...

Kalau Korporasi Hancur, Retail Juga akan Hancur

RAPBN 2027 Dibawa ke Paripurna Pekan Depan

ASPEK.ID, JAKARTA - Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun Anggaran 2027 akan memasuki pembahasan tingkat II...

Rupiah Menguat 5 Poin ke Rp14.025

Defisit APBN Rp240 Triliun Sampai Agustus 2026

  ASPEK.ID, JAKARTA - Kementerian Keuangan melaporkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Agustus 2026 tercatat mengalami defisit...

Load More

Pasar Saham BUMN

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In