ASPEK.ID, JAKARTA – Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyatakan niilai tukar Rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Senin (26/10), setelah ditutup melemah 20 poin menjadi Rp 18.080 per USD pada perdagangan Jumat (23/10).
Kombinasi antara kenaikan harga minyak dunia dan lonjakan harga pangan menjadi penyebab utama tekanan terhadap Rupiah hari ini.
Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pada hari ini secara umum akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.
“Untuk perdagangan (26/10) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.080-Rp 18.130 (per USD),” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Senin (26/10/2026).
Ibrahim mengatakan, kombinasi antara harga minyak yang berada pada kisaran USD 100 per barel dan lonjakan harga pangan menimbulkan guncangan ganda yang secara langsung menekan ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional.
Menurut dia, kombinasi tersebut berdampak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan menimbulkan kekhawatiran fiskal sehingga Rupiah ikut terdampak.
Ibrahim mengatakan, sebagai negara pengimpor bersih minyak, kenaikan harga minyak mentah internasional di atas asumsi makro APBN secara otomatis melipatgandakan kebutuhan belanja negara untuk subsidi BBM dan LPG, serta kompensasi energi.
Setiap kenaikan ICP (Indonesian Crude Price) dipastikan akan memperlebar defisit APBN. Kondisi tersebut membuat pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit.
Yaitu menahan harga energi domestik yang beresiko memperlebar defisit APBN, atau menyesuaikan harga energi domestik tetapi akan berdampak terhadap inflasi sehingga akan memberatkan masyarakat.















