ASPEK.ID, JEPANG – Mobil listrik (electric vehicle/EV) asal China mendapat tempat di pasar Korea Selatan. Namun, ekspansi ke Jepang sulit karena konsumen di sana cenderung memilih merek lokal dan teknologi hybrid.
Dikutip dari Reuters, Senin (2/11/2026), BYD menjual lebih dari 20.000 kendaraan di Korea Selatan selama Januari hingga September 2026. Keberhasilan BYD tidak terlepas dari meningkatnya minat masyarakat Korea Selatan terhadap mobil listrik dengan harga terjangkau. Salah satu model yang menarik perhatian adalah BYD Dolphin yang dibanderol sekitar US$ 18.500.
Analis senior Eugene Investment & Securities, Lee Jae-il, mengatakan kenaikan harga bensin hampir 10% sejak perang AS-Israel melawan Iran turut mendorong minat terhadap kendaraan listrik murah. Sementara itu, Hyundai dan Kia masih lebih banyak berfokus pada segmen mobil listrik premium dan hanya memiliki sedikit model dengan harga di bawah US$ 30.000.
“Momentum ini sangat menguntungkan BYD,” kata Lee dilansir dari beritasatu.
Pabrikan China lainnya juga mulai memperluas bisnis di Korea Selatan. Merek Zeekr milik Geely mulai menerima pesanan SUV 7X dan berencana membuka hingga 14 ruang pamer hingga akhir 2026.
Chery diperkirakan memasuki pasar Korea Selatan pada 2027. Sementara itu, Xpeng yang telah mendirikan unit usaha lokal pada tahun lalu mulai mencari tenaga untuk mengembangkan jaringan penjualannya.
Pasar Jepang Lebih Menantang
Berbeda dengan Korea Selatan, pasar Jepang masih menjadi tantangan bagi produsen mobil China. Merek asing hanya menguasai sekitar 6% penjualan mobil penumpang di Jepang. Konsumen di negara tersebut juga lebih menyukai kendaraan hybrid yang selama ini dikembangkan oleh Toyota.
Sejumlah konsumen Jepang meragukan kualitas dan keandalan mobil China. Fumio Kuwabara, salah satu pengguna awal mobil listrik di Jepang, mengaku belum tertarik membeli kendaraan buatan China karena meragukan kualitas komponennya.
















