JAKARTA-Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut negara-negara tujuan ekspor sawit Indonesia bisa menghadapi dampak besar jika pemerintah menghentikan ekspor komoditas tersebut dan mengalihkannya untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Amran mengatakan, posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia memberikan daya tawar kuat dalam perdagangan internasional.
Selama ini, sawit Indonesia banyak diekspor ke sejumlah negara, seperti India, China, Pakistan, dan Amerika Serikat.
“Pertanyaan saya, kalau ini (ekspor) dihentikan, lalu dijadikan biosolar di dalam negeri, kiamat tidak negara lain? Kiamat ya, kalah enggak nuklir, bom atom? Kalah,” kata Amran dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2026).
Menurut Amran, sawit merupakan komoditas strategis yang memiliki pengaruh besar terhadap peta perdagangan dunia.
“Contoh bahwa ini (sawit) bisa mengubah dunia. Ini jauh lebih dahsyat bom atom. Ini jauh lebih dahsyat daripada nuklir. ini bisa mengubah peta dunia,” ungkap dia.
Karena itu, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap negara lain, terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan dan energi.
Dari sisi pangan, Amran mengatakan Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan dari 11 komoditas pangan strategis.
Delapan komoditas tersebut meliputi beras, jagung pakan, bawang merah, cabai besar, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi.
Indonesia masih mengimpor kedelai, bawang putih, dan daging ruminansia. Pemerintah tengah berupaya meningkatkan produksi ketiga komoditas tersebut agar bisa mencapai swasembada dalam beberapa tahun mendatang.
Amran memastikan, total impor ketiga komoditas tersebut tidak lebih dari 5 persen dari keseluruhan kebutuhan konsumsi nasional.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), total kebutuhan konsumsi 11 komoditas pangan pokok strategis diperkirakan mencapai sekitar 68,8 juta ton.
















