ASPEK.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Washington melancarkan gelombang serangan terbaru ke sejumlah target di Iran setelah Teheran menyerang kapal berbendera Siprus dan kembali menutup Selat Hormuz.
Operasi militer itu dilakukan tak lama setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Sebelumnya, IRGC juga menyerang sebuah kapal berbendera Siprus yang melintas di jalur pelayaran strategis tersebut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut serangan yang dilakukan merupakan gelombang ketiga dalam sepekan. Washington menuding pasukan IRGC secara sengaja menyerang kapal komersial yang sedang berlayar di kawasan itu.
Akibat serangan tersebut, ruang mesin kapal mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat melanjutkan pelayaran. Selain itu, satu awak sipil dilaporkan hilang.
“Iran diberi kesempatan lagi untuk menunjukkan kepatuhan terhadap Nota Kesepahaman setelah dimintai pertanggungjawaban atas serangan sebelumnya terhadap kapal-kapal komersial, tetapi sekali lagi gagal,” demikian pernyataan CENTCOM yang diunggah melalui media sosial X, dikutip Minggu (12/7/2026).
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan IRGC menutup Selat Hormuz setelah menembakkan rudal jelajah antikapal ke arah sebuah kapal yang disebut melintasi rute yang tidak disetujui.
Garda Revolusi mengklaim kapal tersebut telah diberi tembakan peringatan sebelum akhirnya dihentikan karena mengabaikan instruksi. IRGC juga memperingatkan bahwa setiap bentuk “agresi” Amerika Serikat sebagai respons atas penutupan Selat Hormuz akan dibalas dengan keras, termasuk dengan menyasar pangkalan-pangkalan baru AS di kawasan.
Eskalasi terbaru ini memperpanjang rangkaian bentrokan yang telah berlangsung sejak awal pekan. Saat itu, tiga kapal tanker komersial diserang ketika melintasi jalur pelayaran yang direkomendasikan Amerika Serikat di perairan Oman.
Iran bersikeras hanya jalur pelayaran yang berada di bawah pengawasannya yang aman digunakan.
Serangan terhadap kapal-kapal tersebut memicu aksi balasan Amerika Serikat. Menurut pejabat Iran, serangan AS menewaskan sedikitnya 17 orang dan melukai 115 lainnya. Teheran kemudian membalas dengan menyerang sekutu-sekutu Washington di kawasan.
Situasi semakin memanas setelah Presiden Donald Trump menyatakan serangan Iran menandai berakhirnya gencatan senjata. Meski demikian, Trump mengatakan jalur diplomasi masih terus diupayakan melalui para mediator.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyerukan pembalasan atas kematian ayahnya, Ali Khamenei.
“Kami berjanji untuk membalaskan darah pemimpin yang gugur dan semua martir dari kedua perang ini dari para pembunuh yang keji dan tercela. Masalah ini tidak bergantung pada keberadaan pribadi saya maupun pejabat lainnya. Baik kita hadir atau tidak, hal itu akan tetap terjadi,” tegasnya. []






















