Jakarta,- Google mengeklaim kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah membantu perusahaan menemukan dan memperbaiki lebih banyak celah keamanan di browser Chrome dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Dalam pengumuman terbaru, dikutip dari Tech Crunch, Minggu (2/8/2026), Google menyebut telah menambal 1.072 bug keamanan pada dua versi Chrome yang dirilis sepanjang Juni 2026. Jumlah tersebut melampaui total 1.036 bug yang diperbaiki pada 23 versi Chrome sebelumnya yang dirilis selama dua tahun terakhir.
Peningkatan signifikan itu disebut sebagai hasil pemanfaatan model bahasa besar (large language model/LLM) dalam proses pencarian dan perbaikan kerentanan keamanan.
Sejak teknologi AI generatif berkembang pesat, banyak pakar keamanan siber memperkirakan AI akan mampu menemukan celah keamanan dalam jumlah jauh lebih besar. Pada sisi lain, perusahaan teknologi juga dituntut memanfaatkan AI untuk mempercepat penutupan celah sebelum dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Google juga merilis grafik yang menunjukkan lonjakan jumlah bug yang berhasil diperbaiki pada dua versi terbaru Chrome, yakni Chrome 149 dan Chrome 150 yang diluncurkan pada Juni 2026. Sebagai perbandingan, Chrome 126 yang dirilis pada Juni 2024 memiliki jumlah perbaikan bug yang jauh lebih sedikit.
Direktur Teknik Chrome Doug Turner mengatakan, model AI telah mengubah cara industri keamanan siber menemukan kerentanan.
“LLM secara fundamental telah mengubah ekonomi keamanan siber, dengan mentransformasikan penemuan kerentanan menjadi operasi otomatis dalam skala industri,” ujar Turner.
Ia menambahkan, penggunaan model AI seperti Gemini membuat Google mampu mendeteksi dan memperbaiki kerentanan secara lebih proaktif.
“Dengan menerapkan model seperti Gemini, kami secara proaktif memperbaiki kerentanan, mengungguli para pesaing kami, dan membuat Chrome lebih aman dengan setiap pembaruan,” kata Turner.
















