ASPEK.ID, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data korban gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga Kamis (20/8/2026) sore, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 75 orang.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan penambahan korban berasal dari tiga kabupaten terdampak.
“Hingga pukul 16.00 WIB pada hari ini, 20 Agustus 2026, kami tetap menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas jatuhnya korban gempa bumi ini, hingga saat ini mencapai 75 jiwa,” ujar Berton dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BNPB, Kamis (20/8/2026).
Berton menjelaskan empat korban meninggal tambahan masing-masing berasal dari Kabupaten Sikka sebanyak dua orang, Kabupaten Manggarai satu orang, dan Kabupaten Nagekeo satu orang.
“Kami sekali lagi menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya teruntuk untuk keluarga, handai taulan, tetangga, dan seluruh kenalan serta seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Selain korban meninggal, BNPB juga mencatat jumlah warga yang mengalami luka-luka meningkat. Total korban luka kini mencapai 907 orang, bertambah sembilan orang dibandingkan data sebelumnya.
“Korban yang luka sebanyak 907 jiwa yang semula 898 jiwa, untuk hari ini kami mendapatkan data ketambahan sembilan jiwa yaitu berasal dari Kabupaten Ngada,” jelasnya.
Pengungsi Melonjak Lebih dari 33 Ribu Jiwa
BNPB juga mencatat lonjakan jumlah pengungsi akibat gempa susulan yang masih terus terjadi di wilayah NTT. Hingga Kamis sore, total warga yang mengungsi mencapai 92.735 jiwa.
Angka tersebut meningkat 33.088 jiwa dibandingkan pendataan sebelumnya yang mencatat 59.647 pengungsi.
“Saat ini kami mencatat ada 92.735 jiwa yang semula ada 59.647 jiwa, sehingga di catatan kami bertambah 33.088 jiwa dengan rincian yang paling banyak berasal dari Kabupaten Nagekeo 21.883 jiwa bertambah, di Kabupaten Manggarai bertambah 9.649 jiwa, Kabupaten Manggarai Barat bertambah 1.556 jiwa,” tuturnya.
BNPB menyatakan pendataan korban maupun pengungsi masih terus dilakukan di seluruh wilayah terdampak seiring proses evakuasi dan penanganan darurat yang masih berlangsung. []
















