• Latest
  • Trending
Matinya Etika Pendengung Media Sosial

Matinya Etika Pendengung Media Sosial

Jelang RUPS, Ini Rumor Nama-nama Petinggi PLN

RUPS PLN,, Darmawan Prasodjo, Yusuf Didi Setiarto Jadi Wakil Dirut

Pelindo III Buka Lowongan, Cek Syarat & Ketentuannya

Pelindo Kantongi Pendapatan Rp35,48 T, Kontribusi ke Negara Naik

Bos-Bos Bank BUMN Dipanggil ke Istana, Bahas Apa dengan Prabowo?

Bos-Bos Bank BUMN Dipanggil ke Istana, Bahas Apa dengan Prabowo?

Rupiah Tertekan, BI Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

Didit Prabowo dan Jokowi Bertemu Empat Mata, Isi Pembicaraan Dirahasiakan

Didit Prabowo dan Jokowi Bertemu Empat Mata, Isi Pembicaraan Dirahasiakan

Eksekusi Lahan Hotel Sultan Ricuh, Massa Lempari Aparat dengan Batu dan Botol

Eksekusi Lahan Hotel Sultan Ricuh, Massa Lempari Aparat dengan Batu dan Botol

Gencatan Senjata Diperpanjang, Trump Ingin Israel-Lebanon Bertemu di AS

Trump dan Presiden Iran Resmi Teken Dokumen Kesepakatan Damai

Sony Sonjaya Tulis Pesan untuk Kepala BGN Nanik S Deyang, Apa Isinya?

Kubu Sony Sonjaya Bantah Elza Syarief Mundur: Kuasanya Dicabut!

Rismon Akan Bedah Buku ‘Otentikasi Ijazah Joko Widodo’ di UGM

Rismon Akan Bedah Buku ‘Otentikasi Ijazah Joko Widodo’ di UGM

Piala Dunia 2026: Kongo Tahan Imbang Portugal 1-1

Piala Dunia 2026: Kongo Tahan Imbang Portugal 1-1

Nur Alam Resmi Merapat ke PSI, Sebut Sudah Lapor ke Jokowi

Nur Alam Resmi Merapat ke PSI, Sebut Sudah Lapor ke Jokowi

Enam Calon Petugas Haji Dipulangkan karena tidak Jujur

Dahnil Bawa 20 Catatan Evaluasi Haji 2026 ke Prabowo

  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
Jumat, Juni 19, 2026
  • Login
Aspek.id
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI
No Result
View All Result
Aspek.id
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

Matinya Etika Pendengung Media Sosial

by Zamzami Ali
Oktober 19, 2019
in BERITA TERBARU, OPINI
Matinya Etika Pendengung Media Sosial

[Agus Zaini]

Digitalisasi memang tempat dimana kericuhan bermula. Awalnya, medsos bermanfaat guna merekatkan yang jauh, dan sebagai kanal berbagi informasi. Dalam perkembanganya, justru jadi semacam industri; yang bisa dipesan untuk rupa-rupa kepentingan; mulai dari memasarkan suatu produk hingga kampanye politik, bahkan pabrikasi fitnah.

Dampaknya, hoaks menjamur. Bagi pegiat medsos ‘bayaran’ apapun boleh dilakukan, termasuk melakukan fitnah. Maka tak heran, medsos, seperti Facebook ataupun Twitter dianggap memecah belah, menciptakan jurang polarisasi yang berujung pada kericuhan tak berkesudahan. Sudah banyak contoh kasus di hadapan; yang sebetulnya mengajak berpikir ulang; bahwa persoalan baru di depan mata. Ajakan menyemai literasi digital untuk berinternet sehat rasanya belum cukup.

Dalam hiruk-pikuk medsos, yang dikedepankan bukan argumen tetapi sentimen. Maka buku karangan Tom Nichols, berjudul The Death of Expertise(2017) menemukan pijakannya. Kepandiran tumbuh subur di dunia yang serba instan ini, profesor atau orang yang punya kepakaran dikalahkan oleh suatu akun (atau seseorang) yang mengantongi banyak followers. Bahkan jika terjadi silang pendapat, para pengikut itu mencaci maki lawan bicara tanpa ampun, menyerang secara kalap yang tendensius bersifat personal.

BacaJuga

RUPS PLN,, Darmawan Prasodjo, Yusuf Didi Setiarto Jadi Wakil Dirut

Pelindo Kantongi Pendapatan Rp35,48 T, Kontribusi ke Negara Naik

Bos-Bos Bank BUMN Dipanggil ke Istana, Bahas Apa dengan Prabowo?

Rupiah Tertekan, BI Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

Didit Prabowo dan Jokowi Bertemu Empat Mata, Isi Pembicaraan Dirahasiakan

Eksekusi Lahan Hotel Sultan Ricuh, Massa Lempari Aparat dengan Batu dan Botol

Advertisement. Scroll to continue reading.

Padahal yang dibutuhkan bukan “berdebat” tetapi dialog bila ingin menggapai pencerahan dari berbalas cuitan. Berdebat hanya butuh retorika dan suara keras keroyokan. Sementara dialog semua pihak saling memahami, dan mencari titik temu; “saya benar, kamu belum tentu salah”.

Wahana Sangka Curiga

Selain mirip keranjang hoaks, medsos juga bergeser jadi wahana sangka curiga. Orang gampang berkomentar tanpa berhitung dampaknya, seolah tidak merasa memikul beban moral etik antar sesama. Kasus terbaru soal upaya pembunuhan Menko Polhukam Wiranto pada 10 Oktober 2019. Hampir saja ia meregang nyawa lantaran luka tusukan, namun ada saja yang beranggapan bahwa itu rekayasa.

Bayangkan, akun twitter @hanumrais enteng mencuit: “settingan agar dana deradikalisasi terus mengucur”. Bahkan ia menuding peristiwa itu hanya framming belaka. Tentu komentar Hanum atas Wiranto, sungguh melukai perasaan. Ia belum tentu mampu bertanggungjawab apabila dikejar pembuktian dari tuduhannya.

Sejak lama, teknologi informasi yang begitu pesat saat ini membuka kran kemungkinan manusia hidup dalam satu ruang. Kini tukang ojek bisa bersanggahan dengan seorang dosen, yang secara kapasitas jauh berbeda. Ada (being) atau kenyataan yang senyatanya melebur ke dalam dunia citraan. Mitos, gosip, dugaan saling berkelindan dalam dunia virtual.

Selain akun @hanumrais, akun instagram atas nama @rockygerung._ mengunggah gambar editan detik-detik penusukan Wiranto; “sudahlah pak wir, hentikan dramamu…” begitu potongan captionnya. Senada dengan hanum, gambar itu menggiring opini bahwa peristiwa itu sandiwara.

Rasanya saat ini publik sedang sakit, defisit simpati yang mungkin sudah berada pada titik nadir kebangkrutan. Banyak alasan, bisa karena kekecewaan berbeda pandangan atau beberapa alasan lain.

Komentar bernada miring juga datang dari akun Twitter dan Instagram mantan artis Marissa Haque. “Kemarin di TV saya ndak melihat ada darah di tubuh Pak W. Dan semua berita datang dari satu sumber video-HP dengan posisi adegan tertutup pintu mobil satu dengan kaca terbuka lalu pintu satunya dengan kaca tertutup ber-riben gelap,” cuitnya pada Jum’at, 11 Oktober lalu.

Sebagian besar netizen termasuk istri Ikang Fauzi itu, agaknya kerap terjebak pada alur berpikir yang mengada-ada, mengaitkan sesuatu yang konteksnya sangat jauh berbeda. Dan seolah-olah tahu persis apa yang terjadi. “Berita datang dari satu sumber video-HP”, katanya. Pertanyaannya, darimana ia tahu? Kalau bukan mengarang atau hanya dengar dari selentingan gosip.

Ujaran Marrisa dikategorikan false context, antara konten dan narasi salah atau tidak sinkron. Sekaligus ia melakukan misleading content yang memelintir konten untuk niatan menjelekkan. Pengalamannya syuting sebagai artis dengan mengilustrasikan kondisi kaca mobil yang terbuka pada peristiwa Wiranto, sangat tidak ada kaitannya. Selain hanya sebagai narasi tanpa data, yang ditujukan menyudutkan.

Deretan gelar akademik hingga level Doktor, ternyata tidak membuat Marrisa dan sebagian orang mampu berpikir logis dan bijak. Ternyata untuk bisa cerdas tidak selalu harus bergelar Doktor. Seperti diketahui, per 12 Oktober 2019 siang, postingannya telah dihapus. Artinya, dia mungkin sadar bahwa komentarnya bernada halusinasi.

Kasus Marissa itu diharapkan bisa jadi pelajaran bersama, bahwa lebih baik menahan diri berkomentar, ketimbang berhalusinasi, dan berujung malu sendiri. Cek dan ricek penting dalam bermedia sosial, ketimbang merasa paling benar. Apalagi sampai rela meninggalkan adab sebagai orang beragama untuk selalu berprasangka baik terhadap orang lain. Wiranto dan keluarga sedang berduka, jika tidak bisa memberikan doa, diam rasanya lebih dari cukup.

Michel Hardt dan Antonio Negri (dalam Empire, 2000) berpendapat dunia virtual (dalam bentuk medsos), sebuah dunia yang tak lagi punya batasan. Siapa yang sanggup membendung jalan pikiran orang. Tidak ada yang mampu mengukur kekuatan, termasuk nilai-nilai.

Jelas kita memasuki dunia yang melampaui ukuran. Teks-teks dan kode ditempatkan sebagai reproduksi wacana yang membentuk dunianya sendiri. Dalam cuitan akun Hanum dan akun instagram atas nama Rocky Gerung memperlihatkan, antara fakta, teks, penulis dan pembacanya mengalami keterpisahan.

Sementara pembaca yang menangkap pesan dari tools viral; punya kedaulatan sendiri saat melakukan penafsiran pada sebuah teks sesuai dengan kondisi sosio-kulturalnya masing-masing. Para penuduh dan tukang nyinyir atas peristiwa Wiranto, sebagian berasal dari oknum yang belum move on, yang mungkin berada pada barisan yang bersebarangan dengan Jokowi dan pemerintah.

Sehingga cuitan itu menggali lagi ingatan masa lalu berdasarkan pengalaman lantas dikonstruksi ulang, yang membangun relasi semantiknya sendiri dengan dunia. Jika kita pinjam pemikiran Jacques Derrida, Umberto Eco dan Paul Ricouer, bagi saya “dunia adalah teks yang memegang otoritas semantiknya sendiri”.

Singkat cerita, pengalaman sosio-kultural para pendengung; membentuk semacam structural conduciveness di mana berlangsung tindakan kolektif yang tergerak dari kesamaan nasib, barisan perjuangan, kemiripan pandangan ataupun ideologi. Histeria pun meletup yang mendorong orang jadi sangat diskriminatif dan di luar kebiasaan.

Sehingga lahir keyakinan umum, yang membentuk sebuah faktor precipitating (kecurigaan atau rasa cemas). Dengan begitu desas-desus dimobilisasi, sangka curiga gampang dipercaya sebagai kebenaran, lalu viral dan menular tanpa pengecekan ulang. Kemudian diikuti oleh orang lain dengan pikiran kolektif yang sama berdasarkan pengalaman kelompoknya.

Reaksi orang seperti Hanum; disebut sebagai milling, di mana proses kegelisahan tergugah; mengoyak emosional secara individu per individu yang membuat orang jadi mudah berubah irasional. Cuitan itu diarahkan mengaduk-ngaduk perasaan individu bagian dari kelompoknya sehingga bergerak dengan sangat emosional.

Kendati Prabowo Subianto yang pernah jadi rival Jokowi pada pilpres 2019 lalu, berjiwa besar dan menghargai proses demokrasi. Malah Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu berkomitmen membantu pemerintah dalam membangun bangsa. Kenapa bekas pendukungnya malah nyinyir tanpa henti. Ringkasnya, kembali ke pembahasan awal, produsen informasi terbilang sangat subjektif dan tidak lepas dari kuasa kepentingan, sehingga memanipulasi informasi “dihalalkan” demi tujuan praktis mereka.

Jika dikaitkan dengan pemikiran Derrida, situasi itu bisa disebut sebagai interpretasi atas interpretasi (interpretation of interpretation) terhadap berita, teks-teks, desas-desus yang berserakan. Maka para pendengung medsos bebas melakukan rekontekstualisasi yang kemudian melahirkan tafsiran baru yang liar bahkan tanpa didukung data-data kuat; meskipun melukai kemanusiaan sekalipun.

Sebagaimana Hanum yang seolah bergembira dan memilih menyingkirkan empatinya atas peristiwa upaya pembunuhan yang menimpa Menko Polhukam, Wiranto.

Jakarta, 19 Oktober 2019

Agus Zaini (Tenaga Ahli Menko Polhukam)

Komentar
Share51Tweet32SendShareShare9Send
ADVERTISEMENT

Related Posts

Prabowo Lantik Wiranto hingga Gubernur Lemhannas

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto kembali melantik pejabat hari ini, Selasa (22/10). Dari mulai utusan Presiden hingga Penasihat Presiden. Prabowo...

Ketua Wantimpres Wiranto Sampaikan Pesan Hari Kemerdekan RI ke-76

Ketika Gus Dur Kalah Lucu dari Wiranto

Presiden ke-4 RI Gus Dur  dikenal banyak humor. Suatu hari, Gus Dur satu pesawat dengan Jenderal TNI Wiranto yang pernah...

Wiranto Lega Usai Serahkan Lebih 100 Nama Eks Kader Hanura jadi Kader PPP

Wiranto Lega Usai Serahkan Lebih 100 Nama Eks Kader Hanura jadi Kader PPP

Mantan ketua umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto menyerahkan lebih dari 100 nama eks kader Partai Hanura untuk menjadi...

Load More
Plugin Install : Widget Tab Post needs JNews - View Counter to be installed
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Buruh akan Gelar Demo Besar Hingga Mogok Makan, Tuntut Kenaikan Upah 10,5 Persen

Buruh akan Gelar Demo Besar Hingga Mogok Makan, Tuntut Kenaikan Upah 10,5 Persen

PT Timah Tbk Berhentikan Sementara Direktur Operasi dan Produksi Nur Adi Kuncoro

PT Timah Tbk Berhentikan Sementara Direktur Operasi dan Produksi Nur Adi Kuncoro

Erick Thohir: 65% Dana Pensiun di BUMN Bermasalah

Erick Thohir:  Polusi Udara Masalah Serius, BUMN Tanam 100 Ribu Pohon

Konsumsi Avtur di Jawa Tengah Alami Kenaikan

Mudik Lebaran 2026, Pertamina Siagakan Avtur di 5 Bandara Sumbagut

Jelang RUPS, Ini Rumor Nama-nama Petinggi PLN

RUPS PLN,, Darmawan Prasodjo, Yusuf Didi Setiarto Jadi Wakil Dirut

Pelindo III Buka Lowongan, Cek Syarat & Ketentuannya

Pelindo Kantongi Pendapatan Rp35,48 T, Kontribusi ke Negara Naik

Bos-Bos Bank BUMN Dipanggil ke Istana, Bahas Apa dengan Prabowo?

Bos-Bos Bank BUMN Dipanggil ke Istana, Bahas Apa dengan Prabowo?

Rupiah Tertekan, BI Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kontak
  • Iklan
No Result
View All Result
  • BERITA TERBARU
  • BUMN
  • EKONOMI
  • PERBANKAN
  • MARKET
  • POLITIK
  • NEWS
  • INFRASTRUKTUR
  • LIFESTYLE
  • TEKNOLOGI

© 2025 Aspek.id | PT. Aspek Citra Media

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In