ASPEK.ID, SEMARANG – Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu sekolah di wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang, viral di media sosial setelah seorang siswa menerima telur yang masih mentah. Pihak Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) pun menyampaikan permintaan maaf dan melakukan evaluasi.
Video yang beredar memperlihatkan telur rebus dalam kotak makan atau ompreng telah dikupas sebagian cangkangnya. Namun saat dibuka, bagian dalam telur masih cair dan menetes ke wadah makanan.
Perekam video juga menunjukkan salah satu potongan kentang yang tampak berwarna cokelat tua dengan bintik hitam, berbeda dari potongan kentang lainnya.
Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Semarang, Muhammad Romi Dian Sukma, meminta maaf atas kejadian tersebut. Ia mengatakan laporan telah disampaikan kepada pimpinan dan dapur penyedia MBG yang bersangkutan langsung dievaluasi.
“Saya memohon maaf atas kejadian yang terjadi seperti yang diberitakan. Saat ini kami sudah melaporkan kepada pimpinan dan SPPG yang bersangkutan sudah kami evaluasi,” kata Sukma melalui pesan WhatsApp, Senin (21/9/2026).
Sukma berharap insiden serupa tidak kembali terjadi. Ia juga mengimbau penerima manfaat agar menyampaikan kritik maupun saran secara langsung kepada pihak SPPG agar dapat segera ditindaklanjuti.
“Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Kami sangat menerima kritik dan saran dari penerima manfaat, namun besar harapan kami agar disampaikan langsung kepada pihak SPPG,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Tengah, Reza Mahendra, menjelaskan menu tersebut berasal dari salah satu SPPG di Ungaran Barat dan didistribusikan pada Jumat (18/9).
Menurut Reza, telur yang belum matang itu hanya ditemukan pada satu paket makanan dari total 2.463 ompreng yang dibagikan kepada penerima manfaat hari itu.
“Menu telur yang tidak matang dilaporkan dalam satu menu dari 2.463 penerima manfaat,” kata Reza kepada detikJateng, Senin (21/9).
Ia menambahkan, kejadian tersebut sudah dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional. Sebagai tindak lanjut, BGN merekomendasikan agar pihak SPPG menyampaikan permintaan maaf kepada sekolah sekaligus melakukan evaluasi proses penyajian menu, termasuk memastikan telur dikupas setelah benar-benar matang sebelum didistribusikan. []















