ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebutkan prospek ekonomi global pada 2026 masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik. Kondisi ini mendorong sejumlah lembaga internasional menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dibandingkan tahun sebelumnya.
“Prospek ekonomi global masih dibayangi oleh perkembangan geopolitik,” jelas Suahasil di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Suahasil menuturkan ketegangan global tidak hanya dipicu hubungan Amerika Serikat dan Iran. Perkembangan situasi antara NATO dan Rusia juga menambah ketidakpastian ekonomi dunia.
“Bukan hanya soal Amerika dengan Iran, tetapi NATO, Rusia juga muncul cerita-ceritanya,” ujarnya.
Suahasil menerangkan meningkatnya ketegangan geopolitik mulai tercermin pada indikator volatilitas di pasar keuangan dan perdagangan dunia. Pergerakan pasar obligasi menjadi lebih bergejolak, sementara ketidakpastian perdagangan juga meningkat.
“Ini semua berakibat kepada indikator volatilitas. Itu meningkat indikator volatilitasnya,” kata Suahasil.
Ia juga menyoroti kenaikan Dirty Tanker Index sebagai salah satu indikator meningkatnya ketidakpastian perdagangan. Menurut dia, perubahan tersebut menunjukkan tekanan global mulai memengaruhi aktivitas perdagangan dan distribusi komoditas.
“Volatilitas dalam konteks pasar obligasi, volatilitas dalam konteks itu Dirty Tanker Index. Itu juga tiba-tiba dia meningkat, yang menunjukkan bahwa volatilitas trade uncertainty itu meningkat,” ujarnya.
Kondisi tersebut mendorong lembaga-lembaga internasional memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Suahasil menyebut pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025.
“Nah ini membuat lembaga-lembaga internasional menurunkan proyeksi pertumbuhan global lebih rendah. Pertumbuhan global 2026 ini diproyeksikan lebih rendah daripada pertumbuhan tahun 2025,” kata Suahasil.
Menurut dia, perlambatan tersebut berpotensi memengaruhi negara maju maupun negara berkembang. Dampaknya juga dapat merambat melalui perdagangan, investasi, pasar keuangan, dan harga komoditas.
“Ini tentu akan memiliki implikasi kepada pertumbuhan ekonomi, termasuk pertumbuhan ekonomi negara maju maupun negara berkembang,” ujarnya.
Tekanan global juga terlihat dari pergerakan harga komoditas. Suahasil menyebut harga minyak Brent telah naik dari sekitar US$ 102 per barel menjadi sekitar US$ 105 per barel dalam beberapa hari terakhir.
“Bukan hanya kepada pertumbuhan ekonomi efeknya, tetapi juga kepada harga-harga komoditas. Harga komoditas kalau kita lihat Brent itu US$ 102, tetapi hari-hari ini kita sudah melihat angka US$ 105,” katanya.
Menurut Suahasil, perubahan harga komoditas tersebut berdampak terhadap APBN. Dampaknya dapat muncul pada penerimaan negara maupun kebutuhan belanja pemerintah.
“Dan ini semua pasti akan ada implikasi kepada APBN kita. Implikasi kepada pendapatan, implikasi kepada belanja, dan seterusnya,” ujarnya.
Selain minyak, pemerintah juga mencermati pergerakan komoditas lain. Suahasil menyebut harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) cenderung menurun dalam beberapa bulan terakhir, sedangkan harga nikel juga menunjukkan kecenderungan serupa. Sementara itu, harga batu bara berada di kisaran US$ 149,3 per ton.
Suahasil menilai berbagai tekanan global tersebut perlu dikenali dan dimitigasi sejak awal. Pemerintah harus menyiapkan respons agar dampaknya terhadap perekonomian domestik dan APBN dapat dikendalikan.
















