ASPEK.ID, JAKARTA – Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan efisiensi dan transformasi menghasilkan banyak penghematan perusahaan.
Di tahun 2020, Krakatau Steel disebutkan Silmy Karim mampu menurunkan biaya operasional hingga 41 persen.
Terlebih sudah diterapkannya harga gas industri sebesar USD 6 per MMBTU yang membuat biaya produksi efisien.
Krakatau Steel juga melakukan ekspor ke Malaysia dan Eropa mulai 2020 dan awal 2021 ini, anak perusahaan Krakatau Steel yang bergerak di bidang manufaktur Pipa Baja dan Jasa Aplikasi Pelapisan Anti Korosi, PT KHI Pipe Industries (PT KHI), di tahun 2020 pun telah berhasil melakukan ekspor produk pipa baja ke Australia dengan total pengiriman sebanyak 4.370 ton.
“PT KHI menyuplai pipa baja dengan ukuran diameter 1500 mm tebal 25 mm dan panjang 50 m. Seluruh bahan baku utama produk pipa baja ini menggunakan Hot Rolled Coil (HRC) milik PT KS,” kata Dirut Silmy, Minggu (14/3/2021).
Menurutnya, produksi pipa baja untuk proyek ekspor ini menjadi keberhasilan tersendiri dikarenakan spesifikasi yang disyaratkan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi baik dari segi pengujian, dimensi dan ketebalan yang berada pada batas maksimum kapasitas mesin yang dimiliki oleh PT KHI dan Krakatau Steel.
Sejak 2019 sampai hari ini, Krakatau Steel bersama anak usaha sudah menyuplai kebutuhan baja untuk API Series sebanyak ± 120.000 MT.
Sedangkan untuk kebutuhan Pipa migas, anak usaha PT KHI telah memasok sebanyak 23.349 ton di tahun 2019 dan 36.149 ton pada tahun 2020.
“Kami optimis siap memenuhi permintaan baja domestik karena sudah mampu bersaing dengan produk baja impor, dengan catatan tidak ada unfair trade. Bahkan Krakatau Steel dan anak perusahaan telah berhasil melakukan pengiriman ekspor ke beberapa negara,” ungkap Silmy.
























