ASPEK.ID, JAKARTA – Temuan gas Tangkulo di South Andaman dapat dialirkan ke daratan Aceh setelah diproses melalui fasilitas offshore atau lepas pantai. Gas tersebut tidak perlu semuanya dialirkan ke Pulau Jawa agar industri dan ekonomi di Aceh bisa hidup.
“Gas Tangkulo diproses di fasilitas offshore, kemudian dialirkan ke daratan Aceh melalui pipa bawah laut, untuk mendukung industri, pembangkit listrik, dan pertumbuhan ekonomi daerah,” kata ahli ekonomi energi dari Universitas Pertamina, Rinto A Pudyantoro, dikutip dari Antara, Minggu (27/9/2026).
Rinto mengatakan, pengembangan lapangan gas Tangkulo, South Andaman telah mendapatkan persetujuan pemerintah dalam bentuk rencana pengembangan atau plan of development (PoD).
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari riset berbagai sumber, termasuk kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas, pakar, dan praktisi migas, gas tersebut akan diproses di fasilitas offshore, kemudian dialirkan ke daratan Aceh melalui pipa bawah laut.
Gas selanjutnya dialirkan ke onshore receiving facility (ORF) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe, Aceh, untuk mendukung industri, pembangkit listrik, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Rinto memaparkan, pengembangan cadangan sebesar 2 TCF (trillion cubic feet) di Tangkulo dapat dialirkan ke KEK Arun melalui skema operasi subsea wells atau sumur bawah laut. Gas alam dari reservoir kemudian dialirkan ke fasilitas floating production storage and offloading (FPSO) pada kedalaman laut 1.200 meter.
FPSO, kata Rinto, memproses gas alam menjadi sales gas dan kondensat sesuai spesifikasi. Selanjutnya, gas export pipeline menyalurkan seluruh sales gas dari offshore ke daratan Aceh melalui pipa bawah laut sepanjang 85 kilometer.
Setelah itu, onshore receiving facilities (ORF) di KEK Arun menerima gas dari offshore untuk pengukuran, pengaturan tekanan, dan penyaluran ke jaringan distribusi.
“Pemanfaatan di daratan Aceh, gas disalurkan ke industri, pembangkit listrik, hilirisasi, dan sebagainya,” ujar mantan kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas itu.
Rinto menuturkan, masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengembangan gas Andaman sehingga diperlukan sejumlah langkah agar proses pengembangan berjalan baik.
Pertama, tantangan pengembangan deepwater. Tangkulo merupakan lapangan gas deepwater yang membutuhkan teknologi kompleks, investasi besar, serta menghadapi risiko tinggi. Pengembangannya oleh Mubadala Energy mendukung ketahanan energi Indonesia.
Kedua, tantangan terkait kepastian pasar dan keekonomian. Investasi deepwater membutuhkan kepastian pasar dan harga gas yang mendukung keekonomian proyek. Skema harga yang tepat menjadi kunci keberlanjutan investasi dan pengembangan gas laut dalam.
Ketiga, tantangan proses panjang menuju produksi. Pengembangan deepwater membutuhkan waktu panjang sejak penemuan hingga produksi melalui tahapan eksplorasi, studi teknis dan ekonomi, kepastian pasar, pengeboran, serta pembangunan fasilitas dan infrastruktur.
Rinto menilai, gas South Andaman membuka peluang hilirisasi dan dampak ikutan bagi perekonomian Aceh. Namun, kesiapan industri dan infrastruktur untuk menyerap pasokan gas menjadi tantangan berikutnya.
“Jika rencana ini dapat berjalan baik, Tangkulo menjadi langkah awal pengembangan potensi gas Andaman, sekaligus membuka peluang investasi, industri, dan pertumbuhan ekonomi Aceh di masa depan,” pungkas Rinto Pudyantoro.
















