Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto akan mengingatkan Menteri BUMN Erick Thohir terkait pengelolaan Gedung Sarinah. Hal itu bertujuan agar Sarinah tidak hanya untuk komersil saja, tetapi perlu menjadi ruang kebudayaan. Hal itu menanggapi pernyataan sastrawan Goenawan Mohamad, terkait pameran seni rupa di Gedung Sarinah ditutup.
“Kami akan sampaikan kepada Erick Thohir agar pengelolaan Sarinah tidak bisa commercial based, harus ada ruang kebudayaan dan juga ditampilkan capaian kebudayaan bangsa,” ujar Hasto, Jakarta, Sabtu (15/4).
Hasto menyayangkan penutupan pameran seni di Sarinah. Menurutnya, Gedung Sarinah seharusnya menjadi simbol gerakan ekonomi yang berdikari.
“Sarinah ini dimaksudkan sebagai simbol gerakan ekonomi berdikari, maka di Sarinah itu ditampilkan produk-produk dari rakyat Indonesia simbolnya rakyat marhaen rakyat wong cilik itu,” paparnya.
Hasto menceritakan sejarah Gedung Sarinah ketika Bung Karno merencanakan markas PBB dipindahkan di Indonesia, yaitu di Gedung Hyatt. Ketika itu dibuat jalan bawah tanah supaya para diplomat bisa ke Sarinah untuk menikmati makan siang dan malam, dan aneka produksi rakyat Indonesia.
Serta, berbagai lenting kebudayaan ditampilkan juga di Sarinah. Maka itu Hasto menolak bila Gedung Sarinah menjadi sangat komersil.
“Karena itulah pengelolaan Sarinah tidak bisa commercial based karena itu cermin negara hadir untuk mendorong ekonomi rakyat,” kata Hasto.
Sebelumnya, sastrawan Goenawan Mohamad mencuitkan kabar pameran seni rupa di Gedung Sarinah ditutup. Pengelola gedung menghentikan kegiatan karena pertimbangan komersial.
“Ditutup! Tak akan ada lagi pameran seni rupa di Artine, di Gedung Sarinah, Jakarta. Pengelola Sarinah menghentikan kegiatan yang bermutu itu hanya beberapa bulan mereka undang para seniman berpameran. Pertimbangan komersial telah mencekik perkembangan kesenian,” kata Goenawan melalui akun Twitter pribadinya, Sabtu (15/4).























