ASPEK.ID, JAKARTA – Hujan lebat kini tak lagi menjadi pengantar tidur bagi Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Serangkaian keluhan warga, khususnya dari kawasan Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, membuatnya harus siaga penuh setiap kali hujan mengguyur ibu kota.
Banjir yang melanda Daan Mogot pada 23 Januari 2026 lalu menjadi titik balik. Saat itu, hujan deras menggenangi ruas jalan utama hingga menyebabkan kemacetan total dan aktivitas warga lumpuh.
“Sebagai gubernur, setiap kali hujan turun, saya kini tidak bisa tidur. Dulu saya bisa tidur nyenyak saat hujan, tetapi sekarang tidak lagi,” ujar Pramono saat menyampaikan pidato dalam Indonesia Economic Summit (IES) 2026, Selasa (3/2/2026).
Pramono mengungkapkan, kewaspadaan tersebut bukan hanya bersifat institusional, tetapi juga personal. Ia mengaku kerap berdiskusi dengan sang istri setiap kali ada potensi hujan deras di Jakarta, sembari memastikan kesiapan jajaran pemerintah daerah dalam menghadapi kemungkinan banjir.
“Saya dan istri selalu berdiskusi setiap kali hujan turun. Seperti kemarin tanggal 12, 18, dan 22 Januari. Hampir tidak ada waktu tidur karena saya terus memantau kesiapan jajaran saya dalam menghadapi potensi banjir di Jakarta,” jelasnya.
Keluhan warga Daan Mogot disebut terus berdatangan, bahkan hingga pagi hari. Menurut Pramono, banjir di kawasan tersebut sudah masuk kategori serius dan membutuhkan penanganan berlapis.
“Pagi hari ini pun, banyak keluhan terkait banjir di kawasan Daan Mogot. Permasalahan utamanya adalah sistem pompa,” katanya.
Hasil peninjauan langsung di lapangan mendorong Pemprov DKI untuk mengambil langkah cepat. Dalam jangka pendek, pemerintah akan memaksimalkan fungsi pompa yang ada, sementara solusi jangka menengah tengah disiapkan untuk mengurangi risiko banjir berulang.
“Setelah melakukan peninjauan pagi ini, saya mengambil keputusan untuk menyiapkan solusi jangka menengah, sementara untuk jangka pendek, penanganan banjir dilakukan dengan mengoptimalkan sistem pompa,” ujar Pramono.
Ia menambahkan, kondisi Sungai Mookervart menjadi salah satu faktor krusial dalam banjir Daan Mogot, karena permukaan airnya kerap melampaui badan jalan.
“Permukaan sungai Mookervart itu sudah di atas jalan, sehingga dengan memikirkan hari ini saja nggak hujan paling hujan sampai dengan 100 mili sudah cukup baik,” terangnya.
Pramono memastikan, pemerintah provinsi berkomitmen menyelesaikan persoalan banjir Daan Mogot melalui langkah jangka menengah yang lebih sistematis dan berkelanjutan.
“Sehingga dengan begini kami untuk menyelesaikan persoalan jangka menengah kami akan selesaikan,” pungkasnya.
























