ASPEK.ID, JAKARTA- Menkeu Suahasil Nazara menilai ekonomi Indonesia memiliki daya tahan di tengah meningkatnya risiko geopolitik dan gejolak pasar keuangan global. Kondisi tersebut tecermin dari pertumbuhan ekonomi yang masih di atas 5%, inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang memadai, serta mulai masuknya kembali modal asing.
Suahasil mengatakan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu risiko terbesar bagi perekonomian global saat ini. Konflik tersebut berdampak terhadap sektor keuangan, perdagangan, harga komoditas, nilai tukar, hingga arah suku bunga global.
“Saat ini menurut saya, konflik Timur Tengah masih menjadi risiko yang paling utama menggerakkan hampir semua elemen di dunia. Menggerakkan militer, menggerakkan sektor keuangan, menggerakkan perdagangan, dan ini menjadi eskalasi politik yang meningkatkan ketidakpastian,” kata Suahasil dalam Antara Business Forum di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, perubahan kondisi global juga memengaruhi pertumbuhan negara-negara mitra dagang Indonesia. Kondisi tersebut penting diperhatikan karena berpengaruh terhadap permintaan ekspor Indonesia dan aktivitas perdagangan.
Di tengah tekanan global, perekonomian Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Secara kumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang semester I 2026 tumbuh 5,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Di tengah-tengah situasi yang seperti itu, kita melihat bahwa Indonesia itu terus mampu resilient. Resilient itu berarti memiliki daya tahan, mampu tumbuh tetap solid di semester I 2026,” ujar Suahasil.
Tekanan harga juga masih berada dalam rentang sasaran. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 3,19% secara tahunan, sedangkan inflasi sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 1,86%. Inflasi inti pada periode yang sama tercatat 2,92% secara tahunan.
“Pertumbuhan ekonomi tetap kuat, inflasi terkendali, dan kita sudah mulai melihat bahwa terjadi aliran modal masuk,” kata Suahasil.
Suahasil mengatakan arus modal asing mulai berbalik masuk setelah sebelumnya Indonesia sempat mengalami tekanan arus modal keluar. Dana asing tersebut masuk antara lain melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Sampai dengan 14 September minggu yang lalu, inflow accumulation itu Rp 140,7 triliun lewat SBN, lewat SRBI,” ujarnya.
Ketahanan eksternal juga ditopang cadangan devisa yang mencapai US$ 146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, naik dari US$ 145,3 miliar pada akhir Juli. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus secara kumulatif. Hingga Juli 2026, surplus perdagangan mencapai sekitar US$ 3,70 miliar, meski kinerjanya berfluktuasi dari bulan ke bulan.
Dari sektor keuangan, kredit perbankan pada Juli 2026 tumbuh 13,58% secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan 12,67% pada Juni 2026. Bank Indonesia juga mencatat rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan sebesar 23,70% pada Juni 2026.
Daya tahan ekonomi domestik turut terlihat dari keyakinan konsumen. Indeks keyakinan konsumen (IKK) pada Agustus 2026 berada di level optimistis 118,5, meningkat dari 116,8 pada Juli 2026.
Suahasil menegaskan berbagai indikator tersebut tetap perlu dijaga karena gejolak geopolitik dapat dengan cepat memengaruhi harga komoditas, nilai tukar, suku bunga, penerimaan negara, hingga belanja pemerintah.
Karena itu, pemerintah akan menjaga kebijakan fiskal agar tetap fleksibel dalam merespons perubahan kondisi ekonomi global.
“Kebijakan fiskal harus makin adaptif, harus makin bisa menyesuaikan dengan kebutuhan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan melindungi masyarakat,” pungkas Suahasil.
















