ASPEK.ID, JAKARTA – Terusan Suez mulai dibangun pada 1859. Ide pembangunan kanal itu dimulai ketika Jenderal Napoleon Bonaparte mendarat di luar Aleksandria pada 1798.
Bonaparte memboyong sebuah tim sarjana yang ditugaskan untuk mempelajari Mesir agar dapat dikeruk sumber kekayaan negeri ini. Para sarjana itu kemudian mengetahui adanya kanal-kanal kuno di wilayah Suez.
Mereka berencana menggalinya. Namun karena salah perhitungan, rencana tersebut mandek hingga beberapa dekade.
30 tahun kemudian, Barthélemy Prosper Enfantin reformis sosial Prancis datang bersama sekelompok insinyur.
Enfantin dan para Saint-Simonian yang percaya pada industrialisasi dan sains sebagai penggerak peradaban menganggap bahwa dunia Barat dan Timur telah dipisahkan oleh tanah genting Suez (Isthmus of Suez). Terpisahnya dua dunia ini merupakan penyebab terhambatanya pertumbuhan peradaban.
“Begitu kanal menembus pasir dan lautan terhubung, energi Timur dan Barat akan mengalir bersama. Dunia akan menjadi utuh, dan peradaban akan berkembang,” tulis Zachary Karabell dalam Parting The Desert, The Creation of The Suez Canal dikutip dari historia.
Ide Prosper Enfanin dan para Saint-Simonian belakangan diambil oleh Ferdinand de Lesseps, seorang diplomat dan developer Prancis.
Lesseps mendapat dukungan dari Gubernur Mesir Muhammad Said Pasha (1854-1863) agar memberi izin membangun kanal dan penerusnya, Ismail Pasha (1863-1879).
Ferdinand de Lesseps adalah perancang Terusan Suez di wilayah Suez dan yang mendorong pembangunan Terusan Panama. Dia pendiri Suez Canal Company yang didukung oleh Napoleon III dan Ratu Eugenie
Pembangunan terusan itu melibatkan ribuan borjuis dari Prancis, Turki, Belanda, Austria dan Italia. Setelah persiapan dilakukan selama beberapa tahun, perusahaan Terusan Suez didirikan di Paris dan Aleksandria pada Januari 1859 dan pada tahun itu juga dimulai . konstruksi.
Awalnya pembangunan Terusan Suez memakai tenaga kerja paksa dari Afrika dengan jumlah sekitar 1,5 juta orang. Dan puluhan ribu pekerja meninggal karena wabah kolera, perselisihan perburuhan membuat pengerjaan konstruksi terhambat.
Pembangunan Terusan Suez lalu dipercepat dengan beberapa pekerja Eropa dan mesin penggali. Ferdinand de Lesseps dan dan Perusahaan Terusan Suez membuat sekop serta mesin keruk bertenaga uap dan batubara.
Kemajuan pesat proyek ini dalam dua tahun konstruksi. Konstruksi dimulai dari ujung paling utara Pelabuhan Said, yang penggaliannya memakan waktu 10 tahun.
Pada masa ini, terjadi pula konflik kepentingan dan perebutan kendali atas proyek antara Turki, Mesir, dan Prancis. Namun setelah mesin-mesin dan alat berat dibeli, kanal kembali digali pada musim panas 1864.
Terusan Suez diperkirakan selesai dalam enam tahun. Faktanya Laut Merah dan Laut Tengah baru terhubung setelah 10 tahun digali. Gubernur Mesir Ismail Pasha membuka Terusan Suez pada 17 November 1869.
Kapal pertama yang melintas adalah yacht Ratu Perancis Eugenie, L’Aigle. Namun HMS Newport menulis , kapal Angkatan Laut Inggris yang pertama masuk saat Terusan Suez dibuka. Peresmian ini dihadiri oleh istri Napoleon III, Ratu Perancis Eugene. Ferdinand de Lesseps meninggal pada 1894.
Ketika kanal permukaan laut pertama dibuka pada 1869, panjangnya 164 km dan kedalaman 8 meter dapat menampung kapal hingga sekitar 4.500 ton hingga kedalaman 6,7 meter.
Pada 1950-an jalur air tersebut secara substansial diperluas, diperdalam dan diperpanjang, mengikuti permintaan dari perusahaan pelayaran.
Saat dinasionalisasi oleh Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser pada 1956, panjangnya 175 km dan kedalaman 14m, dan dapat membawa kapal tanker dengan kapasitas sekitar 27.000 ton hingga kedalaman 10,7 meter.
Perluasan besar-besaran pada 2015 membuat panjang jalur air menjadi 193,3 km dan kedalamannya menjadi 24 meter.
Itu berarti kanal itu dapat menangani supertanker dengan kapasitas sekitar 217.000 ton, beberapa yang terbesar di dunia, yang mencapai kedalaman 20,1m di dalam air.
Pada 2019, sekitar 50 kapal menggunakan kanal tersebut setiap hari, dibandingkan dengan tiga kapal pada 1869. Lalu lintas diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat pada 2023, dengan sirkulasi dua arah juga mengurangi waktu tunggu.
Dengan adanya Terusan Suez yang lurus sepanjang 193 kilometer ini, kapal-kapal Eropa tidak perlu mengelilingi pesisir barat Afrika untuk bisa berlayar ke Asia. Dengan demikian, faedah Terusan Suez meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayaran internasional.
Kemudian, Terusan Suez berada di negara Mesir, manfaatnya bagi negara itu untuk meningkatkan kedudukan geopolitis di mata internasional. Mesir memperoleh pendapatan negara yang besar dari operasional Terusan Suez
Pada 1888, melalui Konvensi Konstantinopel, Terusan Suez ditetapkan status internasional. Terusan ini harus dibuka untuk semua negara dalam masa damai maupun perang.
Selain itu, juga ada larangan melakukan tindakan permusuhan dan membangun benteng di tepiannya.
Meski demikian, dalam krisis Suez 1956 Mesir melakukan penolakan pada kapal-kapal yang berdagang dengan Israel.
Pada masa ini, Perancis dan Inggris juga menduduki sebagian zona. Terusan baru dibuka kembali pada Januari 1957. Penutupan juga terjadi pada perang Arab-Israel (1967) dan baru dibuka bertahap sejak 1975.
Setelah Terusan Suez di buka pada 1869 atau 4 tahun sebelum perang Aceh, koneksi Eropa ke Asia semakin cepat. Jika sebelumnya memakan waktu empat bulan, kini lima minggu.
Sejak dibuka terusan Suez, maka pelayaran dari Eropa menuju Asia tak lagi melewati selatan (Selat Sunda), tetapi melewati Aden, Kolombo kemudian ke Selat Malaka. Di sinilah letak strategisnya Aceh.
Aceh jadi gerbang lalu lintas perdagangan dunia. Aceh sejak abad ke-16 hingga abad ke-19 dikenal sebagai produsen lada terbesar di dunia. Lada membuat uleebalang dan pemilik lahan tanaman lada menjadi kaya.
Keberadaan Terusan Suez menyebabkan lebih singkat ke Nusantara dan mempercepat pengiriman rempah-rempah dari Nusantara ke Belanda, ini memicu nafsu Belanda dari sebelumnya membeli rempah-rempah untuk menguasai sumbernya melalui konsep menguasai wilayah yang kaya sumber daya alam.
























