ASPEK.ID, JAKARTA – Wakil Presiden Direktur PT Jakarta International Container Terminal (JICT) Budi Cahyono menargetkan bisa mengejar arus peti kemas 2,1 juta TEUs.
Target pada 2021 bisa dipenuhi sejalan dengan pemberantasan pungutan liar di lingkungan pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok telah menetapkan batas waktu maksimal pengiriman 117 menit dan penerimaan 85 menit. Saat ini, realisasi di JICT untuk pengiriman adalah 109 menit dan penerimaan 72 menit.
Lewat capaian itu, kata dia, JICT bisa melakukan lebih baik dari standar yang ditetapkan. Dari sisi arus peti kemas, per Mei 2021 JICT mencapai 807,239 TEUs. Perseroan berkomitmen memberikan pelayanan yang efisien dan berkualitas bagi seluruh pengguna jasa.
“Jadi target 2,1 juta TEUs tahun ini, kami optimistis masih tercapai. Memang tahun lalu hanya 1,8 juta TEUs akibat Covid-19. Tapi kini dari triwulan I/2021 sudah banyak kapal baru merapat dengan layanan baru, sehingga target bakal direalisasikan,” sebutnya, Rabu (16/6/2021).
Untuk mempercepat proses bongkar muat peti kemas, JICT memakai sistem terintegrasi yaitu NGen. Sebagai bagian dari Hutchison Port, NGen dipakai di semua pelabuhan Hutchison Port Holding (HPH) di seluruh dunia.
Sistem tersebut memungkinkan dilakukan secara remote. Dengan demikian apabila terjadi masalah dengan Sumber Daya Manusia (SDM) di suatu pelabuhan, bisa didukung dari pelabuhan lain.
Dia menjelaskan efisiensi di JICT sudah dimulai ketika pelanggan akan melakukan pembayaran biaya ekspor impor.
Melalui penerapan sistem billing online di terminal JICT pengguna jasa tidak perlu datang ke pelabuhan. Sistem ini telah terhubung dengan layanan daring baik melalui aplikasi Web Billing (WEBI) maupun melalui Mobile Apps berbasis android.
JICT juga sudah dilengkapi JICT Auto Gate System (JAGS) untuk mengefektifkan penanganan peti kemas yang keluar masuk terminal menggunakan truk. Saat ini 12.000 truk telah terdaftar dan JICT telah mengeluarkan kartu Truck Identification (TID) bagi perusahaan truk untuk akses ke terminal. Sistem ini secara signifikan mampu mengurangi waktu transaksi di gerbang dan waktu tunggu di area parkir.
Di luar itu, dalam upaya menciptakan produktivitas dan percepatan proses bongkar muat di JICT, beberapa inisiatif telah dilakukan.
Pertama, penambahan operator RTGC di JICT, dari sebelumnya 38 menjadi 40 operator per shift. Penambahan dimulai pada Minggu 13 Juni 2021.
Kedua, Adjustment Deployment Manpower RTGC sesuai dengan beban kerja di lapangan. Penyesuaian deployment operator akan dimaksimalkan pada shift 2 dan 3 (malam hari), yang merupakan shift dengan beban kerja terminal sangat padat.
Ketiga, prioritas Rubber Tired Gantry Crane (RTGC) untuk melayani kegiatan di lapangan dibanding pelayanan kapal jika terjadi kepadatan.
Pada saat pelayanan padat di lapangan, misal terjadi antrean panjang, terminal akan menghentikan untuk sementara kegiatan bongkar kapal dan alat RTGC difokuskan untuk melayani kegiatan penerimaan dan pengiriman.
























