ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir kembali menyinggung soal vaksin Covid-19 yang didatangkan oleh Indonesia.
Disebutkan Erick yang juga Menteri BUMN itu, vaksin-vaksin yang didatangkan Indonesia telah terdaftar di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan telah melewati uji klinis.
Erick Thohir berharap, proses izin edar darurat (Emergency Use Authorization/EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) segera keluar agar vaksinasi dapat dilakukan.
“Sejak awal saya mengemukakan vaksin-vaksin ini adalah vaksin yang sudah tercantum di daftar WHO dan telah melalui uji klinis,” ujar Erick Thohir dilansir laman Antara di Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/1).
Selain itu, dirinya juga telah bertemu dengan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menyampaikan bahwa proses menrntukan kehalalan vaksin itu merupakan tugas pokok dan fungsi MUI.
Presiden Jokowi sebelumnya memastikan ketersediaan 329,5 juta vaksin Covid-19 yang bersumber dari berbagai produsen.
Presiden menyampaikan bahwa jumlah dosis vaksin yang telah dipesan, yang ‘firm order’ dari Sinovac sebanyak 3 juta plus 122,5 juta (dosis), kemudian dari Novavax 50 juta, dari Covax GAVI 54 juta, AstraZeneca 50 juta, dari Pfizer 50 juta vaksin.
Sebanyak 3 juta dosis vaksin COVID-19 buatan pabrikan Tiongkok Sinovac telah tiba di Indonesia. Vaksin tersebut tiba dalam 2 kloter yaitu sebanyak 1,2 juta dosis pada 6 Desember 2020 dan 1,8 juta dosis pada 31 Desember 2020 dan telah didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.
Sedangkan Novavax adalah pabrikan vaksin dari Amerika Serikat-Kanada, selanjutnya AstraZeneca merupakan produsen dari Inggris dan Pfizer adalah vaksin dari perusahaan farmasi gabungan Jerman dan Amerika Serikat.
Sementara Covax GAVI adalah kerja sama multilateral antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Aliansi Vaksin Dunia (GAVI) yang terdiri dari 171 negara dengan targetnya menyediakan 2 miliar vaksin hingga akhir 2021.






















