ASPEK.ID, JAKARTA – Sangat nyaman, setiap tamu disediakan kamar duduk dan kamar tidur menghadap ke beranda. Di beranda, tamu dapat menikmati kopi pagi dan kopi sore.
Pada pukul 10 disediakan sarapan table d’hôte, dan makan malam mulai pukul enam, semuanya dengan harga per hari yang pantas.
Penggalan diatas merupakan kalimat yang menggambarkan suasana di Hotel des Indes Batavia, hotel megah yang disebut-sebut speuluh kali lebih megah dari Hotel Raffles di Singapura.
Namun sayangnya, Hotel des Indes Batavia kini sudah tiada. Hotel yang terletak di kawasan Harmoni, Jalan Gajah Mada ini pernah berfungsi sebagai tempat perjamuan negara Hindia Belanda dan tamu-tamu negara sebelum dibangunnya Hotel Indonesia di Jalan Thamrin pada 1962.
Kawasan yang berbatasan dengan Bank BTN di Jalan Jaga Monyet (Jalan Suryopranoto) dan Chaulanweg (Jalan Hasyim Ashari) ini pernah ditempati kepala-kepala negara peserta Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955.
Hotel des Indes Batavia juga memfasilitasi sejumlah acara perkawinan masyarakat golongan atas, sebelum dihancurkan pada 1971 di usianya yang ke 161 tahun.

Sejarah
Reinier de Klerk merupakan pemilik tanah untuk lokasi hotel ini sejak tahun 1760. Dilansir dari Wikipedia, tanah dan rumah di atasnya kemudian dijual kepada C. Postmans pada tahun 1774.
Pada tahun 1824 tanah dan bangunan dibeli Belanda untuk sekolah asrama putri. Pada tahun 1829, tanah dan bangunan di atas lokasi dibeli orang Prancis bernama Antoine Surleon Chaulan yang mendirikan sebuah hotel bernama Hotel de Provence.
Pada tahun 1845, putra Etienne Chaulan mengambil alih hotel dari tangan ayahnya. Pada tahun 1851, di bawah manajemen Cornelis Denning Hoff, hotel ini berganti nama menjadi Rotterdamsch Hotel.
Pada tahun berikutnya, hotel ini dibeli orang Swiss bernama François Auguste Emile Wijss yang menikah dengan keponakan perempuan dari Etienne Chaulan.
Pada 1 Mei 1856, Wijjs menamakan hotel ini sebagai Hotel des Indes atas usulan Douwes Dekker, dan selanjutnya dijual oleh Wijjs kepada orang Prancis bernama Louis George Cressonnier pada 1960.
Setelah Cresonnier meninggal dunia pada tahun 1870, keluarganya menjual hotel ini kepada Theodoor Gallas. Pada tahun 1886, Gallas menjual hotel ini kepada Jacob Lugt yang memperluas hotel secara besar-besaran dengan cara membeli tanah di sekeliling hotel.
Setelah Lugt mendapat masalah keuangan, Hotel des Indes dijadikan perseroan terbatas N.V. Hotel des Indes pada tahun 1897.
Pada tahun 1903, hotel ini berada di bawah manajemen J.M. Gantvoort sebelum dikelola oleh Nieuwenhuys. Di masa ini, des Indes mencapai puncak kejayaannya dan dianggap sebagai salah satu hotel tersukses di Asia.

Kemewahan Rijsttafel
John T. McCutcheon menulis pada tahun 1910 bahwa bila dibandingkan dengan Hotel des Indes, semua hotel di Asia berada di bawahnya. Dia juga bercerita tentang kemewahan rijsttafel di hotel ini.
Rijsttafel dalam Bahasa Belanda berarti meja nasi, merupakan cara penyajian makanan berurutan dengan pilihan hidangan dari berbagai daerah di Nusantara.
Cara penyajian seperti ini berkembang pada masa kolonial Hindia Belanda yang memadukan etiket dan tata cara perjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan penduduk setempat yang mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok dengan berbagai lauk-pauknya.
Cara penyajian ini populer di kalangan masyarakat Eropa-Indonesia, namun tetap digemari di Belanda dan dihidupkan lagi di Indonesia pada masa kini.
Rijsttafel pada dasarnya adalah konsep penyajian makanan lengkap sesuai tata cara perjamuan resmi ala Eropa, yang diawali dengan makanan pembuka (appetizer), lalu makanan utama, dan diakhiri dengan makanan penutup.
Pada masa kolonial Hindia Belanda, para penguasa dan orang kaya Belanda menciptakan perjamuan ini sebagai sarana untuk menikmati beraneka ragam makanan Nusantara dalam satu kesempatan, sekaligus untuk membuat para tamu terkesan dengan memamerkan kekayaan dan kemakmuran koloninya nan eksotik.

“Anda harus makan siang lebih awal agar cukup waktu untuk menikmatinya sebelum makan malam. Makan siang disajikan oleh 24 orang pelayan yang berbaris memanjang, mulai dari dapur hingga ke meja, dan kembali ke dapur dengan berbaris. Setiap pelayan membawa sepiring makanan berisi salah satu lauk dari keseluruhan 57 lauk pauk untuk rijsttafel. Anda mengambil sendiri lauk dengan sebelah tangan hingga lelah, lalu bergantian dengan tangan yang sebelah lagi. Ketika Anda sudah siap makan, piring anda terlihat seperti bunker di padang golf yang dipenuhi nasi,” ungkap McCutcheon.
Keruntuhan Hotel des Indes Batavia
Setelah melewati masa kejayaannya, hotel yang sangat terkenal dan menjadi ikon Batavia ini akhirnya berhenti beroperasi setelah pendudukan Jepang pada 1942.
Hotel des Indes Batavia bahkan pernah dijadikan tempat penahahanan sementara bagi proklamator Mohammad Hatta.
Setelah Jepang hengkang dari Indonesia, hotel itu kemudian kembali ke dunia bisnis pada Juni 1946.
Hotel des Indes Batavia juga pernah menjadi saksi sejarah perundingan Roem-Royen pada 7 Mei 1949 yang menghasilkan penyerahan kedaulatan Indonesia dari Belanda dan dilepaskannya Soekarno dan Mohammad Hatta.
Presiden Soekarno lalu merubah nama Hotel des Indes menjadi Hotel Duta Indonesia, seiring dengan peresmian berdirinya Hotel Indonesia, yang menjadi saingat beratnya.
Hotel des Indes Batavia kemudian benar-benar lenyap setelah dihancurkan pada tahun 1971 untuk pendirian Pertokoan Duta Merlin.






















