ASPEK.ID, JAKARTA – PT Perusahaan Perdagangan Indonesia atau PPI (Persero) sebagai BUMN yang bergeak di bidang perdagangan, berkomitmen penuh dalam percepatan proses holding BUMN klaster pangan.
Direktur Utama PPI Nina Sulistyowati mengatakan, pihaknya berkomitmen dalam percepatan proses holdingisasi BUMN Klaster Pangan sesuai Arahan Menteri BUMN Erick Thohir.
Hal tersebut guna meningkatkan produktivitas pangan dan membantu ketahanan serta kedaulatan pangan nasional.
“PPI terus komitmen dalam proses pembentukan Holding Pangan ini, sampai saat ini kami telah lakukan proses sampai pra Pembahasan Antar Kementerian (PAK) terkait Penggabungan juga PPI dengan BGR,” ujar Nina dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (25/4).
PT PPI untuk ke depan pasca merger menyampaikan konsep dalam peran sebagai konsolidator dan agregator dalam proses bisnis trading dan logistik yang berbasis digital dari berbagai komoditas klaster pangan yang meliputi, beras dan jagung, gula, garam, ayam dan sapi, ikan serta produk lainnya.
“PPI merupakan BUMN yang bergerak di bidang perdagangan, ekspor, impor dan distribusi. Selain produk pangan, PPI juga mendistribusikan pupuk, saprotan, alat Kesehatan dan Kimia Berbahaya,” katanya.
Dia juga mengatakan bahwa saat ini PPI sedang memfokuskan objek utama dari bisnis trading yang dijalankan, menentukan model bisnis serta kontribusi value dari setiap produk, dan menentukan model transaksi paling tepat untuk Holding BUMN Industri Pangan.
Sebelumnya Wakil Menteri 1 BUMN Pahala N. Mansury berharap holdingisasi BUMN klaster pangan dapat meningkatkan produktivitas pangan nasional.
Holding BUMN Pangan terdiri dari 10 BUMN yakni PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Berdikari (Persero), PT Sang Hyang Seri (Persero), PT Pertani (Persero) dan PT Garam (Persero).
Selanjutnya ada PT Perikanan Nusantara (Persero), PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) dan Perum Perikanan Indonesia (Perindo) serta induk holding yakni PT Rajawali Nusantara Indonesia atau RNI (Persero).
“BUMN pangan ini diharapkan betul-betul dapat meningkatkan produktivitas pangan dan membantu ketahanan serta kedaulatan pangan nasional,” ujar Pahala dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (23/4).
BUMN Pangan ini, kata Pahala perlu juga pengkajian mengenai potensi pengembangan yang sifatnya organik dan non organic serta bagaimana perannya juga sebagai offtaker beberapa komoditas pangan.
Kemudian, memang diperlukan fixing the basic BUMN Klaster pangan seperti bisnis model, pengelolaan cash flow, proses pengadaan, proses kemitraan dan lainnya sebagai upaya perbaikan.
Pahala optimistis bahwa perahu yang mengangkut ke-9 BUMN klaster pangan ini harus berhasil dengan dukungan action plan yang jelas, Key Performance Indicator yang tepat, serta bentuk sinerginya yang terarah antar BUMN Pangan.
“Holding BUMN Pangan diharapkan dapat memperbaiki kinerja anggota-anggotanya yang diharapkan kedepannya menjadi BUMN Pangan yang membanggakan,” katanya.













