ASPEK.ID, JAKARTA – Basarnas menambah kekuatan tim penyelam dalam operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 yang terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa. Sebanyak 12 penyelam tambahan diterjunkan untuk memperkuat pencarian bawah laut terhadap korban yang masih hilang.
Direktur Operasional Basarnas Laksma TNI Yudhi Bramantyo mengatakan tim penyelam tersebut diberangkatkan menuju Banjarmasin pada Sabtu (19/9). Mereka berasal dari Basarnas Special Group (BSG) dan Jaya Dragon.
“Jadi ada satu tim dari Basarnas Special Group, juga satu tim dari Jaya Dragon. Semua sudah berkumpul di satu kapal. Ada kurang lebih 12 orang,” kata Yudhi, Minggu (20/9/2026).
Menurut Yudhi, tambahan personel ini bertujuan memaksimalkan pencarian bawah laut yang sebelumnya telah dilakukan penyelam TNI AL. Basarnas juga terus berupaya mencari korban sembari menunggu pelaksanaan operasi salvage atau pengangkatan bangkai kapal.
“Harapan kita untuk memperkuat apa yang telah dilaksanakan oleh teman-teman TNI Angkatan Laut kemarin. Sambil menunggu keputusan tim salvage, kami berusaha melaksanakan pencarian di bawah air,” ujarnya.
Basarnas juga memutuskan memperpanjang operasi SAR selama tujuh hari ke depan. Keputusan itu diambil pada hari ketujuh operasi setelah berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk tim salvage yang dikoordinasikan pemilik kapal.
“Hari ini memasuki hari yang ketujuh. Kami menyatakan operasi ini akan kami perpanjang menjadi tujuh hari ke depan,” ujar Yudhi.
Hingga Sabtu pukul 21.00 Wita, tim SAR gabungan telah menemukan 117 korban. Rinciannya, 108 orang berhasil diselamatkan dan sembilan orang ditemukan meninggal dunia.
Dengan demikian, masih ada 126 korban yang belum ditemukan dari total 243 orang yang tercantum dalam manifes KM Virgo Transport 8. Pada hari ketujuh operasi, tim SAR belum menemukan korban baru.
KM Virgo Transport 8 berlayar dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan membawa 243 orang pada 12 September 2026. Kapal tersebut dilaporkan mengalami cuaca buruk dan hilang kontak pada 13 September sekitar pukul 02.00 Wita.
Beberapa jam kemudian, kapal ditemukan dalam kondisi terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa, dan operasi pencarian korban terus berlangsung hingga kini. []













