Pertamina mampu mencetak laba bersih senilai USD 3,8 miliar atau setara Rp 56,6 triliun pada 2022. Raihan ini meningkat 86 persen dari tahun sebelumnya. Ekonom senior Piter Abdullah menyatakan pencapaian kinerja Pertamina ini patut diapresiasi.
“Capaian itu membuktikan, bahwa secara bisnis atau laporan keuangan, kemampuan Pertamina tak perlu diragukan lagi. Hasil kinerja Pertamina memang sangat baik dan sangat layak untuk diapresiasi,” ujar dia melansir Antara, Rabu (19/4/2023).
Menurut Direktur Eksekutif Segara Research Institute itu capaian positif BUMN migas itu melebihi catatan kinerja Pertamina pada masa sebelum terjadinya pandemi COVID-19 pada 2019 lalu.
Prestasi tersebut, tidak lepas dari kemampuan manajemen perusahaan dalam memanfaatkan momentum kenaikan harga minyak mentah dunia dengan baik, sehingga secara maksimal berdampak positif terhadap kinerjanya.
Hal itu, dikatakannya, yang kemudian menjadi penopang solidnya kinerja keuangan perusahaan, baik total revenue maupun net income. Termasuk juga penerimaan negara, baik dari segi setoran pajak maupun pembagian dividen.
Oleh karena itu, menurut dia, meski terdapat beberapa evaluasi untuk perbaikan ke depan, termasuk dari segi pengawasan keamanan dan penerapan standard operating procedure (SOP) di lapangan, namun semua pihak memang tidak bisa mengabaikan prestasi Pertamina.
“Hasil kinerja hari ini tetap sangat layak untuk diapresiasi. Tinggal kemudian, bagaimana ke depan kita bersama-sama berbenah untuk capaian yang lebih baik lagi,” demikian Piter.
Sepanjang 2022, kinerja BUMN energi tersebut selain peningkatan laba, Pertamina Group juga berkontribusi terhadap penerimaan negara Rp307,2 triliun, terdiri atas pajak, dividen, PNBP, Minyak Mentah dan/atau Kondensat Bagian Negara, dan signature bonus.
Jumlah setoran ke negara tersebut meningkat 83 persen dibandingkan 2021. Sementara khusus setoran pajak, Pertamina pada 2022 telah membayarkan pajak sebesar Rp219,06 triliun, meningkat 88% dibandingkan tahun sebelumnya.















