Jokowi segera mengumumkan logo resmi Ibu Kota Negara atau IKN Nusantara. RI 1 akan mengumumkan logo IKN terbaik yang mendapat voting terbanyak dari masyarakat. Sebelumnya telah dilakukan voting terhadap lima kandidat logo. Adapun proses jajak pendapat itu sudah ditutup per 20 Mei 2023.
“Kami sudah menutup pemilihan logo. Insya Allah beberapa hari lagi nanti akan diumumkan oleh Bapak Presiden, dan sudah terpilih logo dengan vote terbanyak,” ujar Kepala Otorita IKN Bambang Susantono, Jakarta, Selasa (23/5/2023).
Bambang mengatakan, totalnya ada 500 ribu orang berpartisipasi dalam pemilihan logo ibu kota baru tersebut. Sementara ada 5 logo IKN yang ditawarkan dalam proses pemilihan.
“Alhamdulillah lebih dari 500 ribu masyarakat Indonesia ikut serta dalam voting. Ada 5 logo yang kita taruh, kemudian dipilih bersama,” imbuhnya.
Otorita IKN pun berinisiatif melibatkan masyarakat ikut serta dalam pemilihan logo IKN. Dengan tujuan, agar masyarakat ikut jadi bagian dari sejarah keberadaan IKN.
“Logo ini nanti akan terbawa terus sampai kemudian hari. Saya kira bukti bahwa lebih dari 500 ribu orang sudah berpartisipasi adalah satu kebanggaan tersendiri untuk kita semua, agar Nusantara ini Insya Allah ke depan menjadi ibu kota negara yang sama-sama kita banggakan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Bambang menyampaikan, Otorita IKN hingga saat ini telah menerima 220 surat pernyataan minat atau Letter of Interest (LoI) dari investor untuk terlibat dalam proyek di ibu kota baru di Kalimantan Timur tersebut.
“Total keinginan dari calon investor swasta dalam dan luar negeri, sekarang kita dapat kira-kira lebih dari 220 LoI,” ungkap Bambang.
Namun, Bambang meminta investor bersabar, lantaran eksekusi surat minat itu butuh waktu. Pasalnya, diperlukan waktu untuk melakukan studi kelayakan atau feasibility study (FS) terlebih dahulu.
Mereka juga perlu bolak balik meninjau lapangan untuk melihat kondisi topografi dan kontur di lokasi IKN. Investor juga melihat bagaimana kesiapan infrastruktur dasar yang ada di IKN Nusantara, misalnya akses jalan, jaringan telekomunikasi, hingga akses air.
“Kan mereka juga ingin agar segala sesuatunya bisa dikalkulasikan bagaimana tingkat profitabilitasnya, bagaimana tingkat risikonya, bagaimana praktikalnya di lapangan, kapan harus mulai di lapangan dan seterusnya. Nah, itu biasanya membutuhkan waktu,” pungkas Bambang.






















