ASPEK.ID, BOGOR – Insiden di tambang emas PT Aneka Tambang (Antam) kawasan Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menewaskan 11 orang. Peristiwa itu terjadi pada Rabu sore pekan lalu, setelah kepulan asap muncul dari lubang tambang bawah tanah.
Para korban diduga terpapar gas beracun saat berada di dalam area tambang. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Rudi Setiawan mengatakan seluruh korban telah dievakuasi secara bertahap.
“Di Nanggung sudah tiga orang yang kami selamatkan dan dari beberapa desa-desa lagi sudah diselamatkan (dievakuasi) itu kurang lebih berjumlah 11 orang,” ujar Rudi saat meninjau Posko Siaga di Polsek Nanggung, Kamis (22/1).
Rudi menyebut aparat gabungan dari Polda Jawa Barat, Polres Bogor, TNI, dan pemerintah daerah langsung bergerak setelah menerima laporan kejadian tersebut.
“Kami dari Polda Jabar, Polres Bogor dan teman-teman dari TNI, Pemda, ketika mengetahui ada peristiwa di seputaran Gunung Pongkor itu langsung melaksanakan evakuasi. Itu yang utama dilakukan,” katanya.
Sebelas korban diketahui berasal dari Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, serta Desa Bangun Jaya, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Mereka disebut sebagai penambang emas liar. Seluruh jenazah telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.
Kepolisian tidak melakukan autopsi terhadap jenazah korban. Namun Rudi membuka kemungkinan tindakan tersebut dilakukan bila diperlukan dalam proses penyelidikan.
“Nanti apabila dalam proses-proses lain diperlukan tindakan itu, akan kita lakukan,” ujarnya.
Hingga kini, polisi masih menyelidiki penyebab munculnya asap beracun di dalam tambang. Menurut Rudi, kadar karbon monoksida di lokasi sudah berada pada batas aman.
“Situasi di dalam yang dapat diinformasikan kepada saya, bahwa masih ada asap yang mengandung CO, tapi itu masih di ambang batas aman,” kata dia.
Sementara itu, operasi pencarian korban tambahan di area tambang dihentikan sementara. Kapolsek Nanggung Ajun Komisaris Polisi Ucup Supriatna mengatakan keputusan itu diambil setelah tim SAR gabungan tidak menemukan korban lain di lokasi yang sebelumnya diinformasikan saksi.
“Hasil pencarian terakhir sore itu, tidak menemukan korban lagi. Apa yang ditunjukkan oleh saksi pun tidak ada di lokasi pencarian,” ujar Ucup.
Berdasarkan kesepakatan antara Basarnas dan Emergency Response Group (ERG) PT Antam, operasi SAR resmi dihentikan pada Selasa sore, 20 Januari 2026.
Meski demikian, polisi masih membuka kemungkinan pendalaman informasi dari masyarakat. Hingga kini, belum ada laporan resmi tambahan mengenai korban lain. []























