ASPEK.ID, WASHINGTON – Perusahaan-perusahaan Indonesia dan Amerika Serikat mengamankan komitmen kerja sama perdagangan dan investasi senilai lebih dari US$7 miliar pada Rabu (18/2) waktu setempat. Kesepakatan ini diteken sehari sebelum pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump, yang disebut-sebut akan memfinalisasi kerangka kerja sama dagang lebih luas.
Pengumuman disampaikan oleh US-ASEAN Business Council (USABC). Penandatanganan berlangsung dalam jamuan makan malam untuk Presiden Prabowo yang digelar oleh Kamar Dagang Amerika Serikat.
Berdasarkan lembar fakta USABC, perusahaan Indonesia berkomitmen meningkatkan pembelian komoditas pertanian asal Amerika Serikat dalam jumlah signifikan. Di antaranya 1 juta ton kedelai, 1,6 juta ton jagung, 93.000 ton kapas, 1 juta ton gandum pada 2026 hingga 5 juta ton gandum pada 2030.
Langkah ini mencerminkan penguatan ketahanan pangan sekaligus reposisi strategi perdagangan RI di tengah dinamika pasar global.
Kerja sama tak berhenti pada sektor pangan. Di sektor mineral dan energi, sejumlah kolaborasi strategis juga dikunci.
Perusahaan tambang asal AS Freeport-McMoRan menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Investasi Indonesia terkait pengembangan mineral kritis.
Sementara itu, PT Pertamina menjalin kerja sama dengan Halliburton untuk meningkatkan perolehan minyak (oilfield recovery).
Kolaborasi ini dinilai mempertegas arah kebijakan hilirisasi dan penguatan rantai pasok energi nasional.
Sebelum penandatanganan, Prabowo menghadiri pertemuan bisnis bersama US-Indonesia Society, USABC, dan Kamar Dagang AS di Gedung USCC, Washington DC. Turut hadir perwakilan Kadin Indonesia, menteri, serta pimpinan BUMN.
Dalam forum tersebut, Prabowo secara terbuka mengundang investor Amerika untuk masuk ke sektor strategis Indonesia, termasuk proyek hilirisasi yang kini menjadi prioritas pemerintah.
Ia menekankan Indonesia memiliki cadangan mineral penting bagi industri teknologi masa depan.
“Kami terbuka, kami membutuhkan investasi, dan kami menginginkan lebih banyak investasi, dan kami yakin kami kompetitif, kami atraktif, dan kami punya banyak cadangan mineral yang dibutuhkan untuk produksi teknologi-teknologi baru,” kata Prabowo di hadapan para pengusaha ternama AS dalam acara Business Summit tersebut.
Prabowo juga menyoroti stabilitas ekonomi dan politik Indonesia, serta komitmen pemerintah dalam memperbaiki tata kelola dan memperkuat penegakan hukum.
Pertemuan tingkat tinggi Prabowo–Trump dipandang sebagai momentum penting untuk memperluas kerja sama bilateral di tengah ketegangan perdagangan global dan meningkatnya persaingan penguasaan mineral strategis.
Kesepakatan US$7 miliar ini menjadi sinyal awal bahwa hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat memasuki fase baru — dengan pangan, energi, dan mineral kritis sebagai jangkar utama. []
























