ASPEK.ID – Amerika Serikat menyiapkan skema reasuransi senilai US$20 miliar atau sekitar Rp338 triliun untuk melindungi kapal tanker minyak dan pelayaran energi yang melintasi Selat Hormuz.
Langkah ini diambil di tengah meningkatnya konflik militer antara Washington dan Iran, yang memicu gangguan pelayaran di kawasan Teluk Persia.
Dilaporkan CNBC, Minggu (8/3), program tersebut dijalankan oleh U.S. International Development Finance Corporation (DFC). Lembaga ini akan menanggung potensi kerugian hingga US$20 miliar secara berkelanjutan guna menjaga aktivitas perdagangan energi global.
Pelaksanaan program juga melibatkan U.S. Department of the Treasury dan United States Central Command, terutama untuk memastikan jalur pelayaran tetap beroperasi di kawasan konflik.
CEO DFC Ben Black mengatakan skema ini diharapkan dapat mengembalikan aliran energi global yang terganggu.
“Kami yakin bahwa rencana reasuransi kami akan memungkinkan minyak, bensin, LNG, bahan bakar jet, dan pupuk melewati Selat Hormuz dan kembali mengalir ke dunia,” kata Black.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia telah mendorong lonjakan harga energi global. Harga minyak mentah Amerika Serikat dilaporkan melonjak lebih dari 12% pada Jumat dan menembus US$90 per barel.
Dalam sepekan terakhir, harga minyak bahkan melonjak sekitar 35%, seiring meningkatnya risiko keamanan yang membuat kapal tanker enggan melintasi wilayah tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia. Sekitar 20% konsumsi minyak global dan 20% ekspor gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur laut sempit tersebut setiap hari.
Presiden Donald Trump sebelumnya juga menyatakan pemerintah AS siap memberikan perlindungan asuransi bagi kapal komersial di Teluk Persia, termasuk kemungkinan pengawalan oleh Angkatan Laut AS.
Namun, sejumlah analis menilai hambatan utama pelayaran bukan semata soal asuransi, melainkan faktor keamanan.
Analis pengiriman senior di perusahaan konsultan energi Kpler, Matt Wright, mengatakan pemilik kapal tetap berhati-hati untuk melewati wilayah tersebut.
“Asuransi bukanlah masalah utama bagi pemilik kapal saat ini. Kapal tanker tidak berlayar melalui Selat karena mereka khawatir tentang keamanan fisik mereka,” pungkas Wright. []
















