Jakarta – Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) menyoroti sejumlah tantangan pariwisata Indonesia dalam menghadapi dinamika global yang dapat memengaruhi daya saing sektor tersebut.
Ketua Umum ICPI Azril Azahari mengatakan sedikitnya ada empat isu utama yang perlu menjadi perhatian yakni harga avtur, mahalnya tiket pesawat domestik, kebijakan bebas visa, serta optimalisasi manfaat ekonomi bagi pelaku usaha lokal.
“Kalau dihitung, biaya avtur di Indonesia masih lebih mahal dan membebani biaya bahan bakar untuk kembali ke negara asal, sehingga memengaruhi keputusan maskapai untuk membuka rute ke Indonesia,” ujarnya dikutip dari antara, Selasa (4/8/2026).
Azril juga menyoroti tingginya harga tiket pesawat domestik yang dinilai menjadi tantangan bagi pengembangan wisatawan nusantara di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Menurutnya harga tiket yang mahal berpotensi membatasi mobilitas wisata domestik. Adanya program insentif pemerintah untuk menurunkan harga tiket merupakan langkah positif, namun efektivitasnya masih terbatas karena hanya berlaku dalam periode tertentu.
Pengamat juga mendorong adanya evaluasi terhadap kebijakan bebas visa kunjungan. Ia menilai kebijakan tersebut tetap penting untuk menarik wisatawan asing, tetapi perlu diimbangi dengan pengawasan yang lebih baik agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas.
Salah satu usulannya adalah menerapkan prinsip resiprokal atau timbal balik dalam pemberian fasilitas bebas visa kepada negara mitra, selain itu juga agar tidak terjadi Shadow Economy yang merugikan negara karena aktivitas ekonomi tidak tercatat dan tidak dikenai pajak.
“Nah inilah yang jadinya kriminalitas tinggi terjadi, terutama Bali, dan terjadi The Shadow Economy. Jadi penting sekali dampaknya dari bebas visa. Bebas visa itu harus resiprokal,” tegas Azril.
Selain itu, pemerintah dinilai perlu memastikan belanja wisatawan asing lebih banyak mengalir ke pelaku usaha dalam negeri. Menurutnya, masih terdapat potensi kebocoran manfaat ekonomi ketika wisatawan memilih akomodasi atau layanan yang dikelola pihak asing sehingga kontribusinya terhadap penerimaan pajak dan ekonomi lokal belum optimal.
Ia menilai dengan biaya perjalanan yang lebih kompetitif, kebijakan yang tepat, serta manfaat ekonomi yang semakin luas, sektor pariwisata diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tengah persaingan regional.














