ASPEK.ID, JAKARTA – Pemerintah bersiap meluncurkan produk baru bernama Aspal Merah Putih. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan produk tersebut merupakan campuran antara aspal Buton (Asbuton) dan aspal produksi Pertamina.
Dody menyebut peluncuran Aspal Merah Putih ditargetkan dilakukan setelah peringatan HUT ke-81 RI pada 17 Agustus 2026.
Rencana tersebut disampaikan Dody dalam konferensi pers di Hotel The Ritz-Carlton Jakarta, Rabu (12/8/2026).
“Beberapa hari lagi kita akan meluncurkan Aspal Merah Putih. Itu aspal Buton, tapi Pertamina kan punya aspal dari cairan hasil pengolahan minyak bumi. Itu nanti kita campur dengan aspal Buton,” kata Dody.
Menurutnya, pengembangan Asbuton menjadi salah satu upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap aspal impor. Namun, kebijakan tersebut harus tetap mempertimbangkan aspek ekonomi.
Dody tidak ingin penggunaan Asbuton justru membuat biaya pembangunan infrastruktur meningkat. Sebab, aspal digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari jalan nasional hingga jalan tol.
“Asphalt Buton ini sebenarnya bukan barang baru. Dari dulu juga ada. Tapi mungkin kalau dulu harganya kemahalan. Sekarang, kalau kita menggunakan aspal Buton, dari sisi ekonomisnya harus masuk,” ujarnya.
Dody menargetkan harga Aspal Merah Putih setidaknya dapat menyamai harga aspal yang digunakan saat ini. Bahkan, dia berharap produk tersebut nantinya bisa lebih murah sekitar 10%-20%.
“Idealnya harus sama dengan aspal yang ada saat ini. Harapannya bisa turun sedikit, 10%-20%. Tapi belum, itu masih suatu hal yang nanti para penyedia jasa yang akan menawarkan,” jelasnya.
Dia menegaskan pemerintah tidak ingin penggunaan Asbuton berujung pada kenaikan tarif yang harus dibayar masyarakat. Harga material yang terlalu tinggi juga dinilai berpotensi menambah beban anggaran negara.
“Supaya tarif untuk masyarakat itu tidak perlu nambah untuk sesuatu yang sebetulnya nggak terlalu penting-penting amat, karena sudah ada aspal cair sebelumnya. Itu yang saya juga nggak mau,” kata Dody.
Menurut Dody, pengendalian harga menjadi penting karena penggunaan aspal mencakup jalan tol dan jalan nasional. Jika harga material terlalu tinggi, anggaran pembangunan infrastruktur pemerintah ikut terdampak.
“Kalau misalnya aspal ini ketinggian, nanti APBN saya jebol. Jadi masalah baru besar bagi saya,” ujarnya.
Karena itu, Dody meminta agar kebijakan penggunaan Asbuton tidak dibarengi dengan regulasi baru yang justru menambah ongkos produksi.
“Cuma saya tekankan itu, jangan sampai kemudian ada aturan baru yang kemudian menaikkan biaya produksi. Itu nggak boleh sama sekali,” tegasnya.
Dengan pencampuran Asbuton dan aspal Pertamina tersebut, pemerintah berharap Aspal Merah Putih dapat menjadi alternatif material jalan dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor tanpa menambah beban biaya pembangunan maupun masyarakat. []
















