ASPEK.ID, JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu gangguan penerbangan berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi maskapai. Selain kehilangan pendapatan dari penerbangan yang dibatalkan, maskapai juga harus menanggung berbagai biaya operasional tambahan.
Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto memperkirakan kerugian maskapai dalam skenario gangguan penerbangan selama satu hari di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Raden Inten II, Lampung (TKG), bisa mencapai Rp10 miliar hingga Rp19 miliar.
“Kalau kita hitung secara kasar untuk satu hari gangguan sedang di CGK dan TKG, potensi kerugiannya bisa berada di kisaran Rp10 miliar sampai Rp19 miliar. Angka ini berasal dari kombinasi pendapatan yang hilang dan biaya tambahan yang harus ditanggung maskapai,” kata Bayu, Selasa (8/9/2026).
Menurut Bayu, besarnya kerugian dipengaruhi jumlah penerbangan yang terdampak serta tingkat keterisian kursi atau load factor. Semakin banyak penerbangan dibatalkan saat tiket sudah terjual, semakin besar pula pendapatan yang hilang.
Ia menjelaskan, dalam simulasi 30-50 penerbangan batal dengan load factor sekitar 80%, potensi pendapatan yang hilang diperkirakan mencapai Rp8 miliar hingga Rp15 miliar dalam sehari.
“Dalam simulasi 30 sampai 50 penerbangan yang batal dengan load factor sekitar 80%, pendapatan yang hilang bisa mencapai sekitar Rp8 miliar sampai Rp15 miliar dalam sehari. Itu belum memasukkan biaya operasional tambahan maupun penanganan penumpang,” ujarnya.
Di luar kehilangan pendapatan, maskapai tetap harus menanggung biaya yang tidak berhenti meski pesawat tidak terbang. Beban seperti leasing pesawat, penyusutan aset, hingga biaya kru tetap berjalan.
Sementara itu, gangguan operasional juga memicu tambahan biaya, mulai dari kebutuhan bahan bakar akibat pengalihan rute, biaya kru, hingga parkir pesawat.
“Untuk biaya operasional tambahan, termasuk extra fuel, crew dan parkir pesawat, potensinya sekitar Rp1,5 miliar sampai Rp3 miliar per hari. Kemudian ada biaya penanganan penumpang yang bisa sekitar Rp500 juta sampai Rp1,2 miliar,” kata Bayu.
INACA juga memperkirakan tekanan terhadap keuangan maskapai akan membengkak apabila gangguan penerbangan berlangsung lebih lama. Jika kondisi serupa terjadi selama sepekan, potensi kerugian diperkirakan mencapai Rp70 miliar hingga Rp130 miliar.
“Kalau gangguannya berlangsung satu minggu, potensi kerugian secara kasar bisa mencapai sekitar Rp70 miliar sampai Rp130 miliar. Itu masih belum menghitung dampak reputasi dan kemungkinan penumpang menunda atau mengalihkan perjalanan mereka ke periode berikutnya,” tutur Bayu. []















