ASPEK.ID – Ledakan terdengar di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu (19/9/2026) waktu setempat. Insiden itu terjadi tak lama setelah otoritas Saudi mengirimkan peringatan darurat kepada warga terkait ancaman serangan udara dari kelompok Houthi di Yaman.
AFP melaporkan, warga Riyadh menerima notifikasi di ponsel mereka yang berbunyi, “Wilayah ini berada di bawah ancaman udara musuh.” Peringatan tersebut menjadi yang pertama kalinya diterima penduduk ibu kota sejak konflik di Yaman kembali meningkat pada Juli lalu.
Belum ada keterangan resmi mengenai penyebab ledakan maupun dampak yang ditimbulkannya. Namun, situasi ini menandai meningkatnya ancaman keamanan yang kini mulai menjangkau Riyadh secara langsung.
Sehari sebelumnya, Jumat (18/9), kelompok Houthi menuduh Arab Saudi melancarkan 26 serangan udara ke wilayah yang mereka kuasai dalam kurun 24 jam. Menurut Houthi, jumlah serangan Saudi telah mencapai sekitar 300 kali dalam sepekan terakhir.
Konflik di Yaman sendiri kembali memanas setelah sempat mereda sejak gencatan senjata pada 2022. Perang saudara yang dimulai pada 2014 itu pecah ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa, lalu berlanjut dengan intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Dalam perkembangan terbaru, Houthi mengklaim telah menguasai hampir seluruh wilayah pesisir Laut Merah di Yaman. Langkah itu memberi mereka kendali atas Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Kelompok Houthi juga menyatakan melakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Mereka menegaskan jalur pelayaran di Selat Bab al-Mandab tetap terbuka bagi seluruh kapal, kecuali kapal-kapal milik Arab Saudi.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut eskalasi pertempuran telah memicu krisis kemanusiaan yang semakin parah. Pertempuran terbaru memaksa lebih dari 112.000 orang mengungsi, sedangkan hampir 3.000 orang lainnya menyeberang ke Djibouti untuk mencari perlindungan.
PBB sebelumnya juga memperingatkan sekitar 17 juta warga Yaman mengalami krisis pangan, dengan sekitar satu juta orang berada di ambang kelaparan ekstrem. []













