ASPEK.ID, SINGAPURA – Kualitas udara di Singapura merosot ke level terburuk dalam lebih dalam beberapa pekan terakhir.
Mengutip laporan AFP, Kamis, 29 Oktober 2026, lebih dari 80 pelari memanfaatkan koridor pusat perbelanjaan Marina Square sebagai lintasan jogging pada akhir pekan lalu.
Mereka berlari mengelilingi dua lantai gedung sebelum toko-toko mulai beroperasi. Pendiri Singapore Runners Club, Eugene Beh (52), menerapkan sejumlah aturan ketat, seperti larangan berlari cepat, menyalip, berteriak, meludah, hingga mengelap keringat ke lantai.
Beh mengatakan komunitasnya terpaksa membatalkan sejumlah jadwal latihan di luar ruangan akibat kabut asap yang terbawa angin dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan serta Sumatera.
Dia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi alternatif bagi komunitas olahraga lain jika kualitas udara belum membaik.
“Semoga, dengan izin dari pengelola gedung, ini bisa menyebar ke kelompok olahraga lainnya,” kata Beh.
Pelari Angeline Zeng terbantu dengan fasilitas tersebut karena harus mempersiapkan diri menghadapi lomba half-marathon di Taipei dalam waktu kurang dari sepekan, serta maraton penuh pada Desember mendatang.
Zeng berhasil menyelesaikan 10 putaran atau sekitar 10 kilometer di dalam mal.
“Saya menyukainya karena AC-nya membuat Anda merasa seperti sedang berada di luar negeri di mana suhunya dingin, jadi ini benar-benar hebat,” ujar Zeng kepada AFP.
Berlari di dalam mal memberikan pengalaman berbeda dibandingkan menggunakan treadmill.
“Berlari di mal jelas lebih baik karena treadmill terasa seperti lari hamster. Anda hanya terus mengulangi rutinitasnya,” kata Wong.
Meski kualitas udara mulai membaik pada pekan ini, Singapura pada Rabu, 28 Oktober 2026, masih masuk dalam daftar 20 kota besar dengan tingkat polusi tertinggi di dunia menurut pemantau kualitas udara IQAir.















