Bali- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memanfaatkan sekitar 400.000 lembar uang rupiah yang sudah tidak layak edar menjadi medali untuk ajang QRIS Bali Summer Run 2026.
Limbah uang kertas tersebut diolah menjadi bagian dari sekitar 2.000 medali yang diberikan kepada peserta lomba lari yang digelar di kawasan Renon, Denpasar, Bali, Sabtu (8/8/2026).
Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani mengatakan pemanfaatan uang rusak tersebut merupakan upaya mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai kenang-kenangan bagi peserta.
“Uang yang rusak harus kami tarik secara reguler. Limbah yang terkumpul ini lah yang kami racik menjadi medali,” kata Achris dikutip dari beritasatu.
Menurut dia, uang yang sudah tidak layak edar tidak dibiarkan menjadi limbah yang menumpuk. Bank Indonesia mengolahnya kembali melalui proses pencacahan dan pemadatan sehingga dapat digunakan sebagai material medali.
Pada QRIS Bali Summer Run 2026, terdapat dua kategori lomba, yakni lari 5 kilometer dan 10 kilometer. Medali untuk peserta kategori 5 kilometer menggunakan limbah uang kertas pecahan Rp 50.000, sedangkan medali kategori 10 kilometer dibuat menggunakan limbah uang pecahan Rp 100.000.
Setiap medali diperkirakan membutuhkan sekitar 10 lembar uang kertas yang sudah tidak layak edar. Dengan jumlah sekitar 2.000 medali, total uang rusak yang dimanfaatkan mencapai sekitar 400.000 lembar.
Proses pengolahannya dilakukan dengan mencacah uang kertas menjadi potongan kecil. Material tersebut kemudian dipadatkan menggunakan bahan akrilik transparan hingga membentuk medali.
Selain memanfaatkan limbah uang rupiah, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari kampanye penggunaan transaksi pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Bali- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memanfaatkan sekitar 400.000 lembar uang rupiah yang sudah tidak layak edar menjadi medali untuk ajang QRIS Bali Summer Run 2026.
Limbah uang kertas tersebut diolah menjadi bagian dari sekitar 2.000 medali yang diberikan kepada peserta lomba lari yang digelar di kawasan Renon, Denpasar, Bali, Sabtu (8/8/2026).
Kepala Perwakilan BI Bali Achris Sarwani mengatakan pemanfaatan uang rusak tersebut merupakan upaya mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai kenang-kenangan bagi peserta.
“Uang yang rusak harus kami tarik secara reguler. Limbah yang terkumpul ini lah yang kami racik menjadi medali,” kata Achris dikutip dari beritasatu.
Menurut dia, uang yang sudah tidak layak edar tidak dibiarkan menjadi limbah yang menumpuk. Bank Indonesia mengolahnya kembali melalui proses pencacahan dan pemadatan sehingga dapat digunakan sebagai material medali.
Pada QRIS Bali Summer Run 2026, terdapat dua kategori lomba, yakni lari 5 kilometer dan 10 kilometer. Medali untuk peserta kategori 5 kilometer menggunakan limbah uang kertas pecahan Rp 50.000, sedangkan medali kategori 10 kilometer dibuat menggunakan limbah uang pecahan Rp 100.000.
Setiap medali diperkirakan membutuhkan sekitar 10 lembar uang kertas yang sudah tidak layak edar. Dengan jumlah sekitar 2.000 medali, total uang rusak yang dimanfaatkan mencapai sekitar 400.000 lembar.
Proses pengolahannya dilakukan dengan mencacah uang kertas menjadi potongan kecil. Material tersebut kemudian dipadatkan menggunakan bahan akrilik transparan hingga membentuk medali.
Selain memanfaatkan limbah uang rupiah, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari kampanye penggunaan transaksi pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).













