ASPEK.ID, JAKARTA- Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Dhomber Balikpapan menyiagakan pesawat Casa NC-212 untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) dan Kalimantan Timur. Operasi digelar pada 22 hingga 27 Agustus 2026 di tengah menguatnya El Nino dan menurunnya curah hujan di wilayah tersebut.
Pesawat dari Skadron Udara 4 itu dikerahkan bersama personel dan bahan semai berupa natrium klorida (NaCl). TNI AU bekerja sama dengan Otorita IKN dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah sasaran.
Komandan Lanud Dhomber Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana mengatakan seluruh unsur pendukung telah dipersiapkan untuk pelaksanaan operasi.
“Pada hari ini sudah ada satu BKO pesawat Casa NC-212 Skadron Udara 4 dengan kru yang sesuai dengan perintah untuk mendukung kegiatan operasi modifikasi cuaca mulai dari tanggal 22 Agustus sampai dengan 27 Agustus,” kata Gusti dalam keterangannya, Sabtu (22/8/2026).
Kesiapan operasi sebelumnya dibahas dalam briefing koordinasi di Baseops Lanud Dhomber pada Jumat (21/8/2026). Pertemuan tersebut melibatkan unsur TNI AU, Otorita IKN, dan BMKG, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan pesawat serta kesiapan bahan semai.
Menurut Gusti, Casa NC-212 memiliki daya tahan terbang sekitar empat jam dan mampu membawa bahan semai hingga 800 kilogram dalam satu penerbangan.
“Pesawat kita mampu terbang dengan endurance empat jam sehingga mampu membawa garam sampai dengan 800 kilogram,” ujarnya.
Pesawat tersebut akan diterbangkan untuk melakukan penyemaian awan atau cloud seeding ketika BMKG menemukan awan dengan kandungan uap air dan karakteristik yang memenuhi persyaratan.
Karena itu, OMC tidak berarti menciptakan hujan dari kondisi langit tanpa awan. Operasi tersebut memanfaatkan awan potensial yang sudah terbentuk di atmosfer, kemudian melakukan intervensi dengan bahan semai untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Operasi kali ini dilakukan ketika sebagian besar Kalimantan Timur berada dalam musim kemarau. Analisis BMKG pada dasarian pertama Agustus 2026 menunjukkan 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, termasuk sebagian besar wilayah Kalimantan Timur. Sebanyak 90,79 persen wilayah Indonesia juga mengalami curah hujan kategori rendah.
BMKG bahkan menempatkan sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Timur dalam status waspada kekeringan meteorologis. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan El Nino yang pada awal Agustus telah mencapai intensitas sangat kuat.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan Djoko Sumardiono mengatakan kondisi kering juga menjadi tantangan dalam pelaksanaan OMC. Sebagian besar wilayah Kalimantan Timur dilaporkan hampir dua pekan tidak mengalami hujan signifikan sehingga jumlah awan potensial yang dapat disemai menjadi terbatas.
Menurut Djoko, keberhasilan operasi sangat bergantung pada ketersediaan awan. Dalam kondisi musim kemarau seperti sekarang, peluang keberhasilan OMC secara historis berada di kisaran 30 persen karena awan yang dapat dijadikan sasaran penyemaian lebih sedikit.
Tim karena itu harus terus memantau kondisi atmosfer dan pergerakan awan dari waktu ke waktu. Pesawat baru diterbangkan ketika ditemukan awan dengan karakteristik yang memungkinkan bahan semai bekerja secara efektif.
















