Jakarta – PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan produksi emas akan terus meningkat hingga mencapai sekitar 37 ton pada 2030, seiring beroperasinya tambang bawah tanah baru dan pulihnya kapasitas produksi di kawasan Grasberg, Papua. Proyeksi ini menjadi salah satu indikator bahwa investasi jangka panjang perusahaan mulai membuahkan hasil.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menjelaskan, kenaikan produksi ditopang oleh pulihnya operasi Grasberg Block Cave (GBC) serta mulai berproduksinya tambang bawah tanah Kucing Liar. Kedua proyek tersebut diperkirakan menjadi tulang punggung produksi emas dan tembaga Freeport dalam dekade mendatang.
Sebelumnya, produksi emas Freeport sempat turun akibat gangguan operasional pascainsiden di tambang bawah tanah. Namun, perusahaan memproyeksikan produksi akan meningkat secara bertahap mulai 2027 hingga mencapai sekitar 37 ton pada 2030.
Tak Lepas dari Akuisisi Saham Freeport di Era Jokowi
Prospek peningkatan produksi ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan besar yang terjadi pada 2018, ketika pemerintah Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo menyelesaikan divestasi saham PT Freeport Indonesia.
Melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), yang kini menjadi bagian dari MIND ID, Indonesia resmi meningkatkan kepemilikan saham Freeport dari sekitar 9,36% menjadi 51,23%. Langkah tersebut menjadikan Indonesia sebagai pemegang saham mayoritas untuk pertama kalinya sejak tambang Grasberg beroperasi.
Akuisisi itu sempat menuai perdebatan karena membutuhkan pendanaan besar. Namun pemerintah saat itu berargumen bahwa kepemilikan mayoritas akan memberikan manfaat jangka panjang melalui dividen yang lebih besar, kendali yang lebih kuat atas aset strategis nasional, serta peningkatan penerimaan negara.
Dengan proyeksi produksi emas yang kembali meningkat hingga 2030, potensi penerimaan negara, baik melalui dividen, pajak, maupun royalti juga diperkirakan ikut bertambah, selama harga komoditas tetap kompetitif dan target produksi dapat tercapai.
Meski demikian, besarnya manfaat ekonomi tetap bergantung pada sejumlah faktor, seperti harga emas dan tembaga dunia, keberhasilan pengembangan tambang bawah tanah, efisiensi operasional, serta kebijakan pengelolaan hasil tambang ke depan. Peningkatan produksi sendiri tidak otomatis berbanding lurus dengan kenaikan pendapatan apabila harga komoditas melemah atau biaya produksi meningkat.
























