Kembalinya Presiden ke-7 RI Joko Widodo ke Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar melanjutkan safari politik. Kunjungan itu juga mengingatkan kembali pada hubungan panjang yang telah terbangun antara Jokowi dan masyarakat NTT selama lebih dari satu dekade.
Ada alasan mengapa setiap kedatangan Jokowi ke NTT hampir selalu disambut antusias. Hubungan itu tidak lahir dari satu momentum politik, melainkan dari intensitas kunjungan dan pembangunan yang secara nyata menyentuh kebutuhan masyarakat.
Selama menjabat Presiden, Jokowi tercatat berulang kali mengunjungi NTT. Daerah yang selama bertahun-tahun identik dengan persoalan kekeringan, keterisolasian, dan keterbatasan infrastruktur menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian besar dari pemerintah pusat. Pembangunan tujuh bendungan, pengembangan Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas, peningkatan jalan nasional, pelabuhan, bandara, hingga berbagai program peningkatan konektivitas menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Bagi masyarakat NTT, pembangunan bendungan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar proyek infrastruktur. Air adalah kebutuhan paling mendasar. Karena itu, kehadiran Bendungan Raknamo, Rotiklot, Napun Gete, Temef, Manikin, Kolhua, dan Mbay dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk pertanian, penyediaan air bersih, dan ketahanan ekonomi daerah.
Hubungan itu kemudian tercermin dalam pilihan politik masyarakat. Pada Pilpres 2014, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla meraih sekitar 66 persen suara di NTT. Lima tahun kemudian, dukungan itu melonjak menjadi sekitar 88,6 persen untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, menjadikan NTT sebagai salah satu provinsi dengan tingkat dukungan tertinggi bagi Jokowi secara nasional.
Dukungan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat NTT tidak hanya mengenal Jokowi melalui pemberitaan nasional, tetapi juga melalui pembangunan yang mereka lihat dan rasakan langsung. Di berbagai kesempatan, Jokowi bahkan menyebut dirinya berkali-kali datang ke NTT karena memiliki perhatian khusus terhadap provinsi tersebut.
Karena itu, kunjungan Jokowi ke NTT pada akhir Juli 2026 terasa memiliki makna yang lebih dalam. Meski tidak lagi menjabat sebagai presiden, ia tetap memenuhi berbagai undangan masyarakat. Kehadirannya memperlihatkan bahwa hubungan dengan NTT tidak berhenti bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan di Istana.
Menariknya, kali ini Jokowi datang dengan penampilan sederhana, tanpa mengenakan kemeja maupun topi berlogo PSI seperti pada safari sebelumnya di Lampung. Penampilan tersebut justru mengarahkan perhatian pada substansi kunjungan, yakni bertemu masyarakat dan melanjutkan komunikasi yang selama ini telah terbangun.
Antusiasme warga yang tetap tinggi setiap kali Jokowi datang menunjukkan bahwa ikatan tersebut masih terjaga. Banyak warga memadati lokasi kunjungan untuk menyambut, bersalaman, berfoto, hingga menyampaikan aspirasi secara langsung. Sambutan seperti ini bukan sesuatu yang muncul secara instan, melainkan akumulasi dari hubungan yang dibangun melalui kehadiran dan kebijakan selama bertahun-tahun.
Di tengah dinamika politik yang terus berubah, kunjungan ke NTT memperlihatkan bahwa modal terbesar seorang pemimpin sering kali bukan sekadar jabatan, melainkan rekam jejak. Bagi banyak masyarakat NTT, Jokowi bukan hanya mantan presiden, tetapi sosok yang meninggalkan jejak pembangunan yang masih dapat dilihat dan dirasakan hingga hari ini.
























