ASPEK.ID, JAKARTA – Dokter spesialis saraf, dr Sendjaja Muljadi mengatakan anggapan penurunan fungsi kognitif baru terjadi pada usia 60 tahun ke atas tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, gejala awal penurunan kognitif dapat mulai terlihat sejak usia 40-an.
Karena itu, masyarakat diminta lebih peka terhadap perubahan fungsi memori. Jika seseorang sudah fokus mendengarkan atau membaca informasi, tetapi kembali melupakannya dalam waktu singkat dan kondisi tersebut terjadi berulang kali, pemeriksaan medis dianjurkan.
“Kalau seseorang mulai merasakan, ‘Kok saya sekarang sedikit-sedikit lupa? Ini tidak ada salahnya untuk melakukan pemeriksaan. Pemeriksaannya juga relatif tidak menyakitkan dan tidak selalu membutuhkan tindakan invasif,” jelas dr Sendjaja, di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
dr Sendjaja mengingatkan masyarakat untuk membedakan gangguan kognitif dengan masalah konsentrasi. Lupa akibat kurangnya konsentrasi ketika menerima informasi merupakan hal yang wajar dan tidak selalu menjadi indikator demensia.
Hingga kini, belum ada obat yang dijamin 100% efektif untuk menyembuhkan demensia atau Alzheimer secara total. Oleh karena itu, dunia kedokteran mengandalkan biomarker untuk membantu mendeteksi Alzheimer sejak fase mild cognitive impairment atau gangguan kognitif ringan. Salah satu inovasi diagnostik yang bisa digunakan adalah teknologi Quadra PET-CT.
“Teknologi PET tersebut dapat membantu mendeteksi adanya beta-amyloid, yaitu salah satu biomarker yang berkaitan dengan Alzheimer. Ketika terdapat penumpukan plak beta-amyloid di otak, hal tersebut menjadi salah satu indikator kuat dalam proses diagnosis Alzheimer,” papar dr Sendjaja disadur dari beritasatu.
Menurutnya, apabila demensia telah memasuki tahap moderat atau berat, obat-obatan yang diberikan bukan lagi bertujuan menyembuhkan penyakit, melainkan memperlambat perkembangannya.
“Kalau perjalanan penyakitnya seharusnya berkembang cepat, kita berharap dengan pengobatan grafiknya dapat diperlambat, tidak terlalu curam penurunannya,” terangnya.
Pada tahap tersebut, peran keluarga menjadi sangat penting. Keluarga perlu memberikan pendampingan dan stimulasi secara proaktif kepada pasien untuk membantu mempertahankan fungsi yang masih dimiliki.
Karena pengobatan yang tersedia lebih berfokus pada upaya menghambat perkembangan penyakit, Sendjaja mengingatkan pentingnya pencegahan dan deteksi dini.
Perhatian khusus, kata dia, perlu diberikan kepada orang yang baru memasuki masa pensiun. Berhentinya rutinitas pekerjaan dapat membuat seseorang kehilangan aktivitas dan interaksi sosial yang selama ini dilakukan. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi fungsi otak.
“Pensiun boleh dari pekerjaan, tetapi aktivitas di rumah jangan berhenti. Tetap melakukan aktivitas, tetap bersosialisasi, tetap berpikir dan berinteraksi,” pungkas dr Sendjaja.
















