ASPEK.ID, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana penambahan pasokan diesel Rusia ke pasar global, disertai pelonggaran sementara sanksi AS terhadap produk bahan bakar dari Moskow.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 61 sen atau 0,57% menjadi US$ 106,04 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 47 sen atau 0,5% ke level US$ 93,27 per barel.
Tambahan pasokan diesel Rusia diharapkan dapat membantu meredakan ketatnya pasokan bahan bakar global. Namun, kebijakan Trump tersebut menuai penolakan dari parlemen AS karena dinilai bertentangan dengan undang-undang yang melarang impor energi Rusia hingga negara itu mengakhiri agresinya terhadap Ukraina.
Kepala Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai tambahan pasokan diesel Rusia dan kondisi pasokan Arab Saudi yang lebih stabil memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk bernapas.
Meski demikian, pelaku pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap potensi serangan lanjutan terhadap kapal dan jaringan pipa energi di Timur Tengah. Risiko tersebut dinilai lebih besar dibandingkan kelegaan yang muncul dari tambahan pasokan bahan bakar.
Kelompok Houthi Yaman sebelumnya dilaporkan menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Selain itu, serangan terhadap kapal tanker juga dilaporkan terjadi di kawasan Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Situasi tersebut membuat harga minyak masih berpeluang kembali naik apabila ketegangan geopolitik terus meningkat.
“Sampai kita melihat tanda-tanda deeskalasi yang lebih jelas, kecenderungan pergerakan harga masih mengarah naik,” ujar Waterer.
Ketegangan di jalur-jalur utama distribusi energi itu juga meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi. Biaya tersebut dilaporkan telah melampaui sepertiga dari nilai komoditas, sehingga menambah tekanan terhadap distribusi minyak mentah dan produk turunannya.
Di tengah ketidakpastian rantai pasok dan tingginya biaya logistik, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) turut memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini.
Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, mengonfirmasi bahwa proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global kini dipangkas menjadi 400 ribu barel per hari. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan awal tahun yang mencapai 1,4 juta barel per hari. []
















