ASPEK.ID, JAKARTA – Meksiko berada dalam sorotan dunia. Di satu sisi, negara itu bersiap menjadi tuan rumah ajang sepak bola terbesar sejagat, Piala Dunia FIFA 2026. Di sisi lain, gelombang kekerasan akibat konflik kartel narkoba kembali memanas.
Sebagaimana diketahui, Meksiko akan menjadi tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Kanada. Tiga kota telah ditetapkan sebagai lokasi pertandingan, yakni Guadalajara, Mexico City, dan Monterrey.
Namun situasi keamanan mendadak memburuk. Kerusuhan pecah setelah bos kartel narkoba CJNG, El Mencho, tewas dalam operasi militer di wilayah Tapalpa, Jalisco, pada Minggu (22/2). Kematian tokoh kartel itu memicu aksi balasan brutal.
Sejumlah kendaraan dan stasiun pengisian bahan bakar dibakar. Jalan-jalan diblokade. Bentrokan terjadi di berbagai titik. Laporan menyebut lebih dari 70 orang tewas dalam gelombang kekerasan tersebut.
Kondisi itu memunculkan kekhawatiran global, mengingat hitungan mundur menuju pembukaan turnamen semakin dekat.
Meski demikian, Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menegaskan pemerintah tetap optimistis mampu menjamin keamanan penyelenggaraan ajang tersebut. Ia mengaku telah berkoordinasi langsung dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino.
“Saya telah berbicara melalui telepon dengan Presiden FIFA Gianni Infantino; kami terus bekerja seperti biasa untuk menyelenggarakan Piala Dunia FIFA 2026 dengan sukses,” tulis Sheinbaum di X, dikutip pada Jumat (27/2).
“Kami menegaskan kembali keyakinan kami terhadap negara ini,” lanjutnya.
Laga pembuka turnamen dijadwalkan berlangsung di Stadion Azteca, Mexico City, pada 12 Juni mendatang. Pertandingan antara Meksiko melawan Afrika Selatan akan menjadi penanda dimulainya pesta sepak bola empat tahunan tersebut.
Pemerintah Meksiko kini menghadapi tantangan besar: memastikan stabilitas keamanan tetap terjaga di tengah tekanan kartel, sekaligus menjaga reputasi sebagai tuan rumah ajang olahraga terbesar dunia. []
























