ASPEK.ID, JAKARTA – Seorang anggota DPR RI, Syafruddin, menjadi sorotan usai videonya viral karena disangka sebagai tenaga ahli (TA) saat berada di kantin Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Peristiwa itu terjadi ketika Syafruddin tengah bersantai tanpa mengenakan atribut resmi DPR, seperti pin anggota. Ia mengaku saat itu hanya nongkrong biasa di kantin karena tidak ada jadwal rapat.
“Lagi ngumpul-ngumpul biasa karena kebiasaan saya itu kalau nggak ada jadwal rapat kan suka nongkrong di kantin. Dan tiba-tiba teman kami yang saya juga nggak kenal, orang itu saya nggak kenal. Ya dia ceritanya banyak lah seakan-akan menunjukkan dia itu ya, dia pengatur lah kira-kira gitu,” kata Syafruddin saat dihubungi, Sabtu (11/4).
Dalam obrolan tersebut, seorang staf TA mengira Syafruddin adalah sesama tenaga ahli. Bahkan, staf itu sempat berbicara dengan nada percaya diri seolah memiliki kewenangan.
Syafruddin memilih diam dan tidak menyela. Hingga akhirnya, ia ditanya identitasnya.
“Saya nggak berani juga nyeletuk, diam aja. Nah tiba-tiba kebetulan dia berinisiatif nanya, ‘Abang dari mana?’ Ya saya jawab ‘Saya dari Kaltim’ Ya dia nanya,” ujarnya.
“Dia nanya lagi ‘Abang kerja di mana?’, ‘Saya kerja di DPR’ Nah, dia ini langsung nyeletuk, ‘Abang TA-nya siapa?’. Ya, saya jawab langsung ‘Anu, Bang, saya anggota, Bang,” tambahnya.
Setelah mengetahui fakta tersebut, suasana langsung berubah canggung. Syafruddin menilai orang tersebut kemungkinan merasa malu karena sebelumnya sempat berbicara dengan nada tinggi.
“Nah, itu mulai, mulai terkaget dia kan. Ya aku ya enjoy aja, nggak juga saya tanggapin, ya anggap omong biasa aja. Ya, di situlah terlihat ya ada suasana yang nggak enak. Perasaan nggak enak kan, karena memang ya mungkin, ya kasarnya mungkin dia malu mungkin ya. Udah terlanjur cerita-cerita gitu,” ungkapnya.
Ia menegaskan tidak mempermasalahkan kejadian itu. Menurutnya, penampilan santai tanpa atribut resmi memang kerap membuatnya disalahartikan.
“Ya karena memang saya itu kan ya nggak bisa juga berpenampilan harus perlente, harus apa eksklusif gitu kan. Ya memang saya biasa aja gitu kan. Ya nggak tersinggung lah, biasa aja. Karena memang kita banyak berinteraksi dengan banyak orang yang memang karakternya berbeda-beda,” katanya.
Pengalaman serupa, lanjut Syafruddin, juga pernah ia alami saat berada di Kalimantan Timur. Bahkan, ia pernah dikira sebagai petugas keamanan saat potong rambut.
“Dulu, waktu masih awal-awal jadi ketua PKB Kaltim itu, ya kan saya suka kalau potong rambut itu ya minta dipotong cepak. Kadang-kadang tukang cukurnya nanya ‘Abang security ya?’ Ya, saya iya kan aja gitu. Artinya udah biasa gitu,” tuturnya.
“Udah sering kali, sering kali. Direndahkan orang juga biasa. Apalagi ya awal-awal mula kita nyaleg gitu loh kan. Ya kita biasa aja. Artinya, suasana dan kondisi seperti itu bagi anggota DPR yang memang senang berinteraksi, senang bertemu masyarakat, ya biasa aja,” imbuhnya. []




















