ASPEK.ID, BANDA ACEH – Ramadan tahun ini menghadirkan pengalaman istimewa bagi gelandang kreatif Persiraja Banda Aceh sekaligus pemain tim nasional Afghanistan, Omid Popalzay. Untuk pertama kalinya, ia menjalani bulan suci di Aceh bersama keluarga sejak bergabung dengan klub berjuluk Laskar Rencong tersebut.
Bagi Popalzay, atmosfer Ramadan di Tanah Rencong terasa sangat berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia yang pernah ia tinggali. Nuansa religius yang kuat membuatnya merasakan kemudahan dalam menjalani ibadah puasa.
“Alhamdulillah, saya merasa sangat baik. Semuanya terasa jauh lebih mudah karena melihat orang-orang di sekitar berpuasa, salat, dan benar-benar sibuk dengan Ramadan,” ujar Omid, Selasa (3/3).
Meski demikian, Popalzay mengakui sempat membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan ritme kehidupan masyarakat Aceh selama Ramadan. Ia membandingkan situasi tersebut dengan pengalaman tinggal di Bekasi dan Bogor, di mana aktivitas harian cenderung berjalan normal tanpa banyak perubahan jam operasional.
“Di Aceh ada waktu-waktu tertentu ketika toko tutup dan kapan buka kembali. Jadi saya harus membiasakan diri karena belum terbiasa dengan kondisi seperti itu,” katanya.
Namun proses penyesuaian itu justru menjadi bagian dari pengalaman berharga bagi dirinya dan keluarga. Ia mengaku sangat menikmati suasana berbuka puasa di Aceh yang menurutnya menghadirkan energi kebersamaan yang kuat.
“Saat berbuka, semua restoran penuh dan suasananya luar biasa. Saya dan keluarga sangat menyukainya,” tuturnya.
Terkait menu berbuka, pemain asal Afghanistan tersebut memiliki pilihan favorit. Ia selalu memulai dengan soto Betawi sebelum melanjutkan dengan nasi atau bihun yang dipadukan dengan ayam atau lauk lainnya.
“Saya suka nasi atau bihun dengan ayam atau apa saja, tapi harus nasi atau bihun,” ujarnya sambil tertawa.
Ramadan perdana di Aceh tak sekadar menjadi momen ibadah bagi Popalzay, tetapi juga perjalanan adaptasi budaya dan kebersamaan keluarga. Pengalaman itu kini menjadi bagian penting dalam kisah kariernya bersama Persiraja Banda Aceh, sekaligus mempererat kedekatannya dengan masyarakat setempat. []
























