ASPEK.ID, JAKARTA – Otoritas Terusan Suez telah berusaha menarik Ever Given dengan delapan kapal tandu. Hasilnya nihil. Mereka mengeruk dataran di sisi kedua sisi Terusan Suez dan mengurangi beban kapal Ever Given.
Otoritas di Mesir telah mengeruk 20 ribu kubik pasir di sekitar ujung depan kapal. Hasilnya, kapal tetap membisu. Satu inci pun kapal dengan sekitar 60 ABK dari India itu tak bergeser.
Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki menambahkan bahwa Amerika mengirim bantuan karena tidak mau kanal itu terlalu lama ditutup. Jika terlalu lama tertutup, dampaknya bisa besar terhadap pasar energi.
“Diskusi dengan Pemerintah Mesir terus berjalan. Kami berkonsultasi dengan rekan kami di Mesir untuk memastikan kami bisa memberikan bantuan terbaik,” ujar Psaki.
Otoritas Kanal Suez mengapresiasi bantuan yang ditawarkan Amerika. Menurut mereka, hal itu akan sangat membantu proses pembebasan Ever Given.
Apalagi, ada 200 ribu meter kubik pasir di kedua sisi terusan Suez yang harus dikeruk untuk memberi ruang gerak pada Ever Given.
“Tawaran kerja sama Amerika ini sekaligus menggarisbawahi upaya bersama untuk membebaskan kapal dan memastikan lalu lintas maritim global di Terusan Suez kembali berjalan,” kata Otoritas Kanal Suez.
Terusan Suez adalah tol laut tersibuk di dunia. Tiap hari minimal ada 200 kapal lewat di sana. Beda dengan Terusan Panama, di Suez tidak perlu ada dam lock karena permukaan air di Laut Merah sama dengan permukaan air di Laut Tengah.
Jika macet berlangsung lebih dari seminggu, pemilik kapal kargo mengalihkan kapal melalui Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika yang menambah kira-kira dua minggu perjalanan daripada sekarang melalui terusan Suez yang hanya beberapa hari.
Perusahaan pelayaran Denmark, Maersk, mengatakan bahwa tujuh kapalnya tertahan di Terusan Suez. Empat kapal sudah di sistem kanal dan tiga lainnya menunggu masuk.
Apakah ada dampak bagi Indonesia dengan macet total di Terusan Suez? Dikutip dari CNBC Indonesia, Kamis (26/3/2021) Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan ada kapal Indonesia yang ikut mengantre di jalur Terusan Suez.
Untuk berapa banyak kapal Indonesia yang tersendat di jalur tersebut, Benny belum bisa memastikan. Namun, pihaknya terus berkoordinasi dengan para eksportir yang mengirim komoditi ke kawasan Eropa dan sekitarnya.
“Pasti ada (kapal RI ikut kena macet di Terusan Suez), lagi saya cek,” sebut Benny.
Benny mengungkap adanya dampak negatif dari kejadian ini, yaitu naiknya ongkos kirim barang. Kenaikan ongkos terjadi karena naiknya biaya bahan bakar yang lebih besar.
Jika semakin lama perjalanan, maka biaya lain juga akan membengkak, terutama untuk awak kapal.





















