ASPEK, ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengungkap alasan kemarahanya terkait permasalahan rendahnya serapan anggaran di lingkungan kementerian di tengah pandemi Covid-19.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengungkapkan, Presiden Jokowi marah terhadap belanja pemerintah yang lambat karena berdampak pada kinerja ekonomi nasional.
Lebih lanjut, Basuki mengatakan, karena Presiden Jokowi mengandalkan serapan anggaran guna menggerakan sekaligus memperbaiki pertumbuhan dengan mengandalkan belanja pemerintah tersebut.
“Satu-satunya untuk membantu pertumbuhan ekonomi adalah belanja pemerintah. Jadi kalau Pak Presiden marah-marah belanja pemerintahnya lamban, hanya itu yang kita harapkan untuk pertumbuhan ekonomi,” kata Basuki dalam diskusi secara virtual yang digelar PDI-P bertajuk ‘Kebijakan Mengatasi Pengangguran’, Kamis (23/7/2020).
Indonesia pada kuartal I tahun 2020 masih mampu menumbuhkan ekonomi sebanyak 2,97 persen. Namun pada kuartal II, pertumbuhan ekonomi turun menjadi minus 4,3 persen. Oleh karenanya, ia mengatakan, pemerintah ingin pada kuartal III pertumbuhan ekonomi dapat didobrak dengan belanja pemerintah.
“Pada tahun 2020 kuartal pertama positif 2,97 persen, kuartal ini minus 4,3 persen. Kita ingin akhir tahun 2020 ini tidak minus, atau mengembalikan saja cukup, asal tidak minus,” kata Basuki.
Sebelumnya Presiden Jokowi mengungkapkan kekecewaanya terkait permasalahan belanja pemerintah yang bisa menggerakkan perekonomian di masa krisis seperti sekarang.
Selain Pemotongan, Jokowi Tambah Anggaran Kemenkes-Kemendikbud dan Belanja Pemerintah Pusat Untuk itu, ia meminta para menterinya membelanjakan anggaran kementerian dengan cepat agar perekonomian masyarakat bisa hidup kembali. Hal itu disampaikan Presiden Jokowi saat membuka rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/7/2020) melalui video yang tayang di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Rabu (8/7/2020)
























