ASPEK.ID, JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan vaksinasi untuk kelompok masyarakat lanjut usia dengan prioritas tenaga kesehatan akan dimulai pada Senin (8/2) besok.
Keputusan itu menyusul persetujuan penggunaan darurat vaksin oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Dalam sebuah surat kepada PT Bio Farma (Persero) yang dikutip Sabtu (6/2), disebutkan bahwa pemberian vaksin Sinovac bagi mereka yang berusia 60 tahun ke atas diizinkan dengan ‘memperhitungkan keadaan darurat.’
Pemerintah sudah meluncurkan program imuniasi vaksin Sinovac pada bulan lalu yang melibatkan 3 juta dosis dan ditujukan untuk tenaga medis dan pegawai negeri.
Bio Farma sebelumnya mengajukan permohonan kepada BPOM untuk penambahan indikasi untuk populasi lansia (60 tahun ke atas) dengan interval penyuntikan 0 dan 28 hari.
Selain itu juga diajukan penambahan alternatif interval penyuntikan 0 dan 28 hari untuk populasi dewasa (18-59 tahun).
“Kami sudah memperbaiki petunjuk teknis, sudah mengomunikasikan dengan jajaran di lapangan agar besok jam 09.00 WIB vaksinasi untuk lanjut usia dengan prioritas tenaga kesehatan yang berusia di atas 60 tahun bisa dimulai,” kata Menkes dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (7/2).
Disebutkan mantan Wakil Menteri BUMN itu, pemerintah memprioritaskan vaksinasi terlebih dulu kepada tenaga karena memiliki risiko lebih tinggi terpapar Covid-19.
Selain tenaga kesehatan, mereka yang mendapat prioritas adalah kelompok lanjut usia dan para pejabat publik termasuk Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Tenaga kesehatan Indonesia yang berusia di atas 60 tahun saat ini disebutkan berjumlah 11.600 orang.
“Mereka (tenaga kesehatan) yang berusia di atas 60 tahun adalah orang yang berisiko terpapar virus corona, sekaligus berisiko mengalami kefatalan yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Sementara Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan, persetujuan penggunaan darurat diberikan melalui pembahasan yang dilakukan BPOM dengan pihak terkait seperti Komisi Nasional Penilai Obat, Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), dokter spesialis alergi dan imunologi, serta spesialis geriatrik terhadap hasil uji klinis vaksin CoronaVac di Cina dan Brazil yang melibatkan kelompok berusia 60 tahun ke atas.
Penny mengatakan sebelumnya pihaknya telah memantau dan mendapatkan data uji klinis vaksin CoronaVac fase pertama dan kedua di Cina dan fase ketiga di Brazil. Persetujuan BPOM tersebut diberikan setelah memeriksa data uji klinis di kedua negara tersebut.
Berdasarkan uji klinis fase pertama dan kedua di Cina yang melibatkan 400 orang kelompok lanjut usia menunjukkan hasil imunogenisitas yang baik, yaitu terdapat kadar antibodi 97,96 persen 28 hari setelah pemberian dosis kedua.
“Uji klinis fase ketiga yang berlangsung di Brazil dengan melibatkan subjek lansia sebanyak 600 orang telah diperoleh hasil bahwa pemberian vaksin ini pada kelompok usia 60 tahun ke atas menunjukkan vaksin aman dan tidak ada efek samping serius yang dilaporkan,” ujarnya.
Penny menambahkan, efek samping yang dilaporkan dari uji klinis tersebut bersifat ringan dan tidak serius, yaitu nyeri, mual, demam, bengkak, kemerahan pada kulit, dan sakit kepala.























