ASPEK.ID, JAKARTA- Melansir dari The Health Site, Rabu (18/8/2021), peneliti menemukan beberapa hal terkait dengan sistem shift malam, antara lain:
– Pekerja shift malam secara biasa atau permanen memiliki 12 persen peningkatan risiko gangguan irama jantung dibandingkan dengan yang hanya bekerja di siang hari.
– Pekerja shift malam seumur hidup, risiko gangguan irama jantung meningkat menjadi 18 persen setelah sepuluh tahun atau lebih.
– Pekerja yang bekerja rata-rata 3 sampai 8 shift malam dalam sebulan selama 10 tahun atau lebih memiliki 22 persen peningkatan risiko gangguan irama jantung dibandingkan dengan pekerja siang hari.
Pekerja dengan sistem shift dapat menyebabkan masalah pada pencernaan, insomnia, jantung, obesitas, depresi, tekanan darah tinggi, penyakit kardiovaskular hingga kanker.
Studi terbaru yang diterbitkan dalam European Heart Journal juga menunjukkan bahwa orang-orang yang bekerja shift malam memiliki peningkatan risiko penyakit jantung dan gangguan irama jantung atau disebut sebagai fibrilasi atrium.
Dalam studi tersebut, wanita lebih rentan alami fibrilasi atrium atau gangguan irama jantung dibandingkan pria saat bekerja shift malam. Selain itu, orang yang tidak berolahraga secara teratur juga dapat mengalami penyakit ini.
Peneliti menemukan bahwa semakin lama dan semakin sering orang bekerja shift malam selama hidup mereka, semakin besar risiko fibrilasi atrium. Kerja shift malam tidak terkait dengan stroke atau gagal jantung.














