ASPEK.ID, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menegaskan kondisi fundamental ekonomi nasional tetap solid di tengah tekanan global yang masih tinggi. Optimisme tersebut tercermin dari mulai masuknya kembali aliran modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan domestik dalam beberapa hari terakhir, yang ikut menopang pergerakan rupiah.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengungkapkan, hingga 6 Februari 2026, tercatat inflow sebesar Rp15,44 triliun, terutama ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Capaian ini menjadi sinyal positif setelah sepanjang 2025 Indonesia mengalami arus keluar dana (outflow) hingga Rp126,97 triliun.
“Memang secara year to date rupiah masih mengalami pelemahan, tetapi kalau kita lihat dalam tiga hari terakhir, rupiah sudah mulai menguat dan hari ini berada di level Rp16.700-an,” ujar Destry dalam diskusi di Hotel Kempinski Indonesia, Jakarta, Selasa (10/2).
Destry menjelaskan, gejolak sempat melanda pasar keuangan domestik, terutama pasca rilis laporan MSCI serta dinamika di kawasan regional. Namun, komunikasi kebijakan yang konsisten dari pemerintah dan regulator dinilai berhasil memulihkan kepercayaan pelaku pasar.
Dalam menjaga stabilitas nilai tukar, BI disebut terus hadir secara aktif di pasar. Sejumlah instrumen stabilisasi dioptimalkan, mulai dari intervensi pasar spot, non-deliverable forward (NDF) di luar negeri, hingga domestic NDF (DNDF).
“Ketika terjadi outflow cukup besar di SBN beberapa hari lalu, BI masuk untuk menjaga agar yield tetap stabil, tidak terlalu naik dan tidak terlalu rendah,” jelasnya.
Ia juga menyoroti ketatnya persaingan global dalam menarik aliran dana. Oleh karena itu, BI berupaya memastikan aset rupiah tetap menarik melalui imbal hasil yang kompetitif, dengan tetap bertumpu pada fundamental ekonomi yang kuat.
Kepercayaan pasar, lanjut Destry, turut diperkuat oleh kejelasan dan konsistensi kebijakan pemerintah, termasuk realisasi groundbreaking tujuh proyek hilirisasi yang dijalankan Danantara.
Meski demikian, Destry menekankan bahwa penguatan rupiah tidak bisa terjadi secara instan. Prosesnya perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan industri dan dinamika pasar.
“Kita ingin kita tumbuh bersama, kita ingin kuat bersama tentu dengan industri dan dengan market. Jadi sebagai regulator kita juga harus tahu apa yang terjadi,” imbuhnya.
BI pun mengajak pelaku industri, perbankan, dan korporasi untuk bersama-sama menjaga stabilitas nilai tukar. Rupiah yang stabil dinilai bukan hanya mencerminkan kedaulatan ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Gejolak adalah hal yang normal di tengah dinamika global, tetapi yang penting, kita lihat sekarang inflow mulai masuk ke SBN, SRBI, dan saham,” pungkas Destry. []
























