ASPEK.ID, JAKARTA – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai pelemahan rupiah saat ini tidak bisa disamakan dengan kondisi ketika krisis moneter 1998 terjadi. Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia saat ini jauh berbeda dibandingkan masa krisis dahulu.
Hal itu disampaikan Misbakhun merespons banyaknya perbandingan nilai tukar rupiah sekarang dengan kondisi 1998 yang ramai dibahas di media sosial. Saat ini, rupiah berada di kisaran Rp 17.700 per dolar AS, sedangkan pada krisis 1998 rupiah juga sempat menyentuh level serupa.
Meski demikian, dia menegaskan titik awal pelemahan rupiah pada dua periode tersebut sangat berbeda. Pada 1998, rupiah terjun bebas dari level Rp 2.400 per dolar AS hingga menembus Rp 17.000 lebih. Sementara saat ini, pelemahan terjadi dari kisaran Rp 16.000-an per dolar AS.
“Kita harus yakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa rupiah Rp 17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka yang sangat tinggi untuk saat ini, tapi ingat bahwa Rp saat ini mungkin pernah menyamai krisis 98. Krisis 98 rupiah Rp 17.500-Rp 17.800 itu berangkat dari angka berapa? Berangkat dari angka Rp 2.400. Rupiah sekarang berada pada level Rp 17.600 itu berangkat dari Rp 16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita juga berbeda,” ujar Misbakhun, Senin (25/5).
Misbakhun juga mengatakan hingga kini belum ada laporan terkait perbankan maupun perusahaan swasta yang mengalami gagal bayar akibat tekanan kurs dolar AS.
“Sekarang rupiah Rp 17.600 belum ada perbankan atau swasta yang mengumumkan ada kegagalan bayar, menghadapi tekanan, iya,” katanya.
Dia menjelaskan, saat krisis moneter 1998 Indonesia mengalami gelembung ekonomi atau economic bubble di berbagai sektor. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya pinjaman valas yang tidak dilengkapi lindung nilai atau hedging.
Akibatnya, ketika rupiah tertekan tajam, banyak perusahaan dan sektor perbankan tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran utang dalam dolar AS.
“Maka ketika rupiah mengalami tekanan yang naik mereka kemudian mengalami gagal bayar alias default,” ujarnya.
Meski demikian, Misbakhun mengakui pelemahan rupiah tetap memberikan dampak keuntungan bagi sektor tertentu melalui selisih kurs. Fenomena serupa juga pernah terjadi saat krisis 1998.
Namun dia menekankan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dibandingkan masa krisis moneter. Menurutnya, pada 1998 Indonesia sempat mengalami kontraksi ekonomi hingga minus 13% disertai lonjakan inflasi yang tinggi.
“Sekarang juga yang sama, tetapi hanya pada sektor tertentu. Artinya apa? Secara fundamental ekonomi kita sangat kuat. Pada saat itu 98 kita mengalami pertumbuhan minus 13%. Inflasi jangan ditanya. Tetapi kita sekarang menghadapi situasi ekonomi yang tumbuh,” tegasnya. []























